Ulasan Film Swiped (2025): Kisah Bangkit dan Runtuhnya Dinasti "Tech Bros" yang Menginspirasi

Film Swiped (2025) membawa kita menyelami dunia penuh gejolak di balik layar aplikasi kencan yang begitu akrab dalam keseharian kita. Disutradarai oleh Rachel Lee Goldenberg, film ini mengambil latar belakang kisah nyata Whitney Wolfe Herd, seorang wanita visioner yang menjadi otak di balik kesuksesan awal Tinder dan kemudian bangkit untuk menciptakan kerajaannya sendiri, Bumble. Saya menemukan bahwa Swiped berhasil menghadirkan lebih dari sekadar drama biopik konvensional; ia adalah sebuah cerita tentang ketangguhan, pembalikan kekuasaan, dan perlawanan terhadap budaya toxic yang mapan di lembah silikon.

Film ini secara efektif terbagi dalam dua bagian naratif yang sangat kontras. Bagian pertama mengisahkan energi liar dan menggairahkan dari masa-masa awal berdirinya Tinder. Kita diajak menyaksikan bagaimana Whitney Wolfe (diperankan dengan sempurna oleh Lily James), dengan kecerdasan dan visi pemasaran yang luar biasa, menjadi motor penggerak yang mengubah sebuah ide sederhana menjadi fenomena global. Adegan-adegan di kantor Tinder dipenuhi dengan energi juvenil, penuh dengan mainan, skuter, dan semangat "tech-bro" yang khas era 2010-an. Momentum ini dibangun dengan pacing yang cepat dan dinamis, seolah menjiplak denyut nadi startup yang sedang "naik daun".

Namun, di balik glamor dan kesuksesan tersebut, benih-benih ketidakadilan mulai tumbuh. Hubungan asmara Whitney dengan rekan pendiri, Justin Mateen (Jackson White), berubah menjadi sumber tekanan psikologis yang mendalam. Film ini dengan cukup berani menampilkan bukti tekstual dari pelecehan yang ia alami, yang konon diambil dari dokumen pengadilan yang sesungguhnya. Titik balik terjadi ketika Whitney, yang telah berkontribusi besar, secara sistematis disingkirkan dari narasi pendirian perusahaan, bahkan dihapus dari sejarah yang ia bantu tulis. Adegan dimana ia mendapati dirinya tidak disebutkan dalam sebuah artikel majalah ternama adalah sebuah momen yang menusuk dan menggambarkan betapa rapuhnya posisi wanita dalam lingkungan yang didominasi pria.

Bagian kedua film menceritakan kebangkitannya. Dengan dukungan dari investor visioner Andrey Andreev (dimainkan dengan karisma unik oleh Dan Stevens), Whitney membangun Bumble—sebuah aplikasi yang tidak hanya sekadar menyambungkan orang, tetapi dengan berani membalikkan norma dengan fitur "wanita yang memulai percakapan". Transisi dari korban menjadi pemimpin ini digambarkan dengan pergeseran visual dan emosional yang jelas. Suasana kantor yang sebelumnya kompetitif dan maskulin berganti dengan lingkungan kolaboratif yang didominasi energi feminin. Dalam bagian inilah pesan utama film benar-benar bersinar: bahwa dari pengalaman pahit dapat lahir inovasi yang tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga membawa dampak sosial yang positif.

Dari segi penyutradaraan, Rachel Lee Goldenberg berhasil menciptakan sebuah film yang secara visual polished dan emotionally engaging. Meski beberapa kritik menyebutkan film ini terasa "glossy", justru di situlah kekuatannya sebagai sebuah drama inspirasi yang mudah dicerna. Penggunaan warna, pencahayaan, dan set design dengan cermat membedakan dua dunia yang dialami Whitney: palet warna yang lebih gelap dan kontras untuk fase Tinder, dan warna-warna lebih cerah serta hangat untuk era Bumble.

Lily James benar-benar menghidupkan karakter Whitney Wolfe Herd. Ia tidak hanya meniru penampilan, tetapi menangkap esensi dari seorang wanita yang otaknya bekerja sangat cepat, penuh dengan ide, namun juga harus berjuang melawan keraguan dan trauma. James membawakan transformasi karakter tersebut dari seorang wanita yang awalnya berusaha keras untuk "cocok" dengan budaya "bro" di Tinder, menjadi seorang pemimpin yang percaya diri dengan nilai-nilai yang ia pegang teguh. Adegan-adegan dimana ia menghadapi tekanan dan pelecehan diwujudkan dengan intensitas emosional yang membuat kita sebagai penonton merasa seolah mengalami sendiri ketidakadilan tersebut. Performa pendukung dari Dan Stevens sebagai Andreev juga memberikan sentuhan humor dan keunikan yang menyegarkan, meski dengan aksen Rusia yang sengaja dibawakan dengan sedikit dramatis.

Sementara itu, skor film yang dikomposeri oleh Chanda Dancy menambah lapisan naratif yang penting. Musik tidak hanya menjadi pengiring, tetapi memperkuat sensasi "propulsi" atau dorongan maju yang konstan, mencerminkan sifat protagonisnya yang pantang menyerah. Pada saat-saat tergelap Whitney, musik tidak jatuh ke dalam melankoli yang lambat, melainkan menjadi sebuah tekanan yang berdenyut, menggambarkan perasaan terperangkap yang ia alami.

Penggemar berat genre biopik yang gelap dan penuh introspeksi seperti The Social Network mungkin akan merasa bahwa film ini memilih untuk tetap berada di permukaan yang lebih aman dan inspiratif. Konflik dengan Andrey Andreev yang dalam dunia nyata juga terkait dengan skandal tempat kerja yang toxic, dalam film ini disinggung secara singkat dan tidak dieksplorasi dengan kedalaman yang sama seperti konflik di Tinder. Selain itu, proses inovasi dan pembangunan Bumble sendiri, yang menjadi puncak dari perjalanan Whitney, terasa agak terburu-buru dan kurang mendapatkan porsi yang sama detailnya dengan bagian pendirian Tinder. Beberapa penonton mungkin menginginkan lebih banyak "daging" dalam bagian kemenangan ini.

Namun, ketidak-sempurnaan ini tidak serta merta mengurangi nilai film secara keseluruhan. Swiped tahu apa yang ingin dicapainya: menjadi sebuah cerita yang membangkitkan semangat, khususnya bagi para wanita yang bercita-cita di dunia teknologi dan kewirausahaan. Film ini berhasil mengemas kompleksitas persoalan seksisme, kekuasaan, dan inovasi menjadi sebuah tontonan yang menghibur dan mudah diakses tanpa kehilangan esensi perjuangannya.

Pada akhirnya, Swiped lebih dari sekadar film tentang pembuatan aplikasi kencan. Ini adalah sebuah cermin yang ditunjukkan kepada kita tentang dunia yang telah kita ciptakan—sebuah dunia dimana hubungan manusia telah direduksi menjadi gerakan jari yang sederhana, namun di baliknya tersimpan dinamika kekuasaan, prasangka, dan harapan yang sangat kompleks. Film ini mengingatkan kita bahwa teknologi, pada akhirnya, hanyalah sebuah alat; nilainya ditentukan oleh manusia yang menciptakannya dan visi kemanusiaan yang mendasarinya.

Jujur saja, sebelum menonton film ini, saya tidak pernah mendengar nama Bumble. Bahkan perusahaan induknya, Badoo, juga tidak. Sebagai seseorang yang tidak pernah antusias menginstall aplikasi kencan online, saya bahkan masih sering mendengar nama Tinder diucapkan. Tapi bumble? Tidak pernah sama sekali. Tapi, setelah menonton film ini, saya mungkin akan menginstallnya, dan mungkin akan mencoba menggunakannya. Saya dengar saat ini saham bumble terus merosot nilainya. Saya ingin mendukung Whiteney Wolfe, dan mungkin ingin sedikit memberikan saran untuknya. Mungkin, Bumble perlu berbenah. Seharusnya berbenah. Apapun itu, saya ingin mendukung mereka.

Saya merekomendasikan Swiped tidak hanya bagi mereka yang tertarik dengan dunia startup dan teknologi, tetapi juga bagi siapa saja yang percaya pada ketangguhan manusia dan kekuatan untuk bangkit kembali. Film ini adalah sebuah pengingat bahwa terkadang, "swipe" yang paling penting bukanlah yang Anda lakukan di layar ponsel, melainkan keputusan untuk menyapukan rasa takut dan mulai menulis babak baru hidup Anda sendiri.

Rate: 8/10

Komentar