Ulasan Serial Mercy for None (2025): Sebuah Pertunjukan Aksi Berdarah yang Mencekik

Meskipun derajat kekerasannya yang tinggi mungkin tidak cocok untuk semua penonton, Mercy for None tetap merupakan tontonan yang memukau bagi penggemar genre aksi gelap yang ingin melihat sebuah cerita balas dendam dijalankan dengan tekad yang tak tergoyahkan dan gaya visual yang mencolok. Serial ini adalah pengingat bahwa dalam dunia yang kejam, kadang-kadang satu-satunya jawaban adalah dengan menunjukkan "mercy for none"—tanpa ampun.

Mercy for None membawa penonton ke dalam dunia bawah Seoul yang kelam, mengisahkan tentang Nam Gi-jun (So Ji-sub), seorang mantan penegak geng yang telah memutuskan semua ikatannya dengan kehidupan kriminalnya sebelas tahun yang lalu. Pengorbanannya untuk keluar dari dunia hitam bahkan sampai pada titik ia memotong tendon Achilles-nya sendiri sebagai bentuk komitmen. Namun, kehidupan tenangnya yang ia bangun di sebuah perkemahan terpaksa berakhir tragis ketika adiknya, Nam Gi-seok, yang masih berkecimpung di dalam geng, dibunuh secara keji.

Kematian Gi-seok inilah yang memaksa Gi-jun kembali ke dunia yang ditinggalkannya. Dengan mengenakan setelan yang seharusnya menjadi hadiah ulang tahun dari adiknya, Gi-jun berubah menjadi badai pembalasan yang tak terbendung. Ia menyelami kembali persaingan sengit antara dua kelompok geng besar, Juwoon Group dan Bongsan Group, untuk mengungkap konspirasi di balik pembunuhan tersebut. Perjalanannya adalah sebuah spiral kekerasan yang semakin dalam, di mana setiap petunjuk membawanya pada pertemuan berdarah dengan musuh-musuh lama dan baru, dari penerus geng yang tak terkendali hingga jaksa yang ambisius.

Salah satu pilar utama yang menopang nilai bagus untuk serial ini adalah performa magnetik dari So Ji-sub. Ia tidak memerankan Gi-jun sebagai seorang pria yang emosional dan penuh amarah, melainkan sebagai seorang yang diliputi kesedihan dan tekad membara. Matanya yang sendu dan gerak-geriknya yang hemat bicara lebih keras daripada dialog, berhasil menyampaikan beban duka dan rasa bersalah yang ia tanggung. Karakternya digambarkan sebagai seorang yang nyaris legendaris di dalam cerita, seorang "dewa" yang ditakuti, dan So Ji-sub mewujudkannya dengan sempurna melalui kehadiran layarnya yang sangat kuat. 

Action choreography adalah bintang lain dari serial ini. Pertarungan tangan kosong dan menggunakan senjata tajam digarap dengan sangat detail, membuat setiap pukulan, tendangan, dan tusukan terasa keras dan nyata. Perbandingan dengan John Wick dan Oldboy tidak terelakkan, dan serial ini memang pantas disandingkan. Perbedaannya, dengan pembatasan senjata api di Korea, pertarungan di Mercy for None terasa lebih intim, brutal, dan personal. Adegan perkelahian di lorong sempit, yang disinari cahaya none, bukan hanya sebuah kekerasan biasa, melainkan sebuah visual poetry of chaos yang estetis. 

Atmosfer dunia noir yang dibangun juga konsisten dan imersif. Kota Seoul digambarkan sebagai labyrinth of shadows, dengan gedung-gedung tinggi yang berkilauan dan gang-gang gelap yang penuh bahaya. Skor musik elektronik yang berdenyut semakin memperkuat nuansa tegang dan tanpa ampun, menciptakan sebuah dunia yang terasa hidup, berbahaya, dan mematikan.

Namun, di balik semua kecemerlangan teknisnya, Mercy for None memiliki beberapa kelemahan yang tidak bisa diabaikan. Yang paling mencolok adalah plot armor yang dikenakan oleh Gi-jun. Meski dikisahkan memiliki cedera kaki dan terus menerus ditebas, ditusuk, dan dipukuli, ia seringkali bertahan seperti manusia super, mampu melawan puluhan musuh sekaligus dalam kondisi sekarat. Pada titik tertentu, hal ini dapat menguji seberapa jauh penonton harus menanggalkan rasa percaya mereka. 

Selain itu, meski konsep "show, don't tell" umumnya baik, serial ini kadang terlalu hemat dalam memberikan konteks. Latar belakang persaingan antara dua geng besar tidak pernah benar-benar dijelaskan dengan detail, termasuk bisnis ilegal apa sebenarnya yang mereka jalankan. Beberapa karakter pendukung, termasuk seorang jaksa, dikritik karena kurangnya kedalaman dan kepintaran, membuat motivasi dan tindakan mereka terasa kurang meyakinkan. 

Dinamika emosional antara Gi-jun dan orang-orang dari masa lalunya juga sering kali hanya disinggung, tanpa adegan kilas balik yang cukup untuk membuat penonton benar-benar memahami kedekatan dan pengkhianatan yang terjadi. Akibatnya, meski kita mengerti secara logika bahwa pertarungan itu penuh beban emosi, rasa harunya tidak selalu sampai ke penonton. Struktur kepengurusan yang hampir seluruhnya didominasi pria juga menjadi catatan, meninggalkan sangat sedikit ruang bagi karakter perempuan, yang hampir tidak ada, untuk berkembang.

Pada akhirnya, Mercy for None adalah serial yang tahu persis apa yang ingin ia capai: menjadi sebuah tontonan aksi balas dendam yang brutal, stylish, dan tanpa kompromi. Dalam hal itu, serial ini sukses besar. Ia tidak berpretensi untuk menjadi drama gangster yang rumit dan penuh psikologis, melainkan sebuah kendaraan bagi seorang bintang untuk memimpin sebuah pembantaian yang estetis dan memuaskan. 

Nilai plus diberikan untuk action choreography yang luar biasa, sinematografi yang atmosferik, dan performa sentral So Ji-sub yang menghanyutkan. Namun, serial ini juga harus mengakui adanya pengorbanan dalam hal kedalaman narasi, perkembangan karakter, dan realisme dalam hal ketahanan fisik sang protagonis. Jika kamu mencari sebuah cerita yang dalam dan kompleks, Mercy for None mungkin bukan jawabannya. 

Tapi jika kamu ingin menyaksikan seorang "one-man army" yang menelusuri jalan berdarah demi orang yang dicintainya, dengan adegan pertarungan yang akan membuatmu terpana, maka serial ini adalah tontonan yang sangat menghibur dan layak untuk disaksikan. Ia adalah pengingat yang kuat bahwa dalam genre ini, kadang yang kita cari bukanlah kebenaran yang filosofis, melainkan kepuasan visceral melihat keadilan—atau balas dendam—berjalan dengan tangannya sendiri.

Rate: 7,5/10

Komentar