Ulasan Film Gowok: Kamasutra Jawa (2025) - Sebuah Lukisan Epik yang Ambisius

Film Gowok: Kamasutra Jawa (2025) hadir layaknya sebuah lukisan Jawa kuno yang dibentangkan dengan kanvas yang terlalu lebar. Sutradara Hanung Bramantyo sekali lagi membuktikan keberaniannya menyentuh tema-tema yang jarang diusik, mengangkat tradisi gowok—seorang wanita yang bertugas mengajarkan ilmu rumah tangga dan seksualitas kepada calon mempelai pria—dalam balutan drama epik yang membentang dari tahun 1950 hingga 1965. Film ini adalah sebuah mahakarya yang bercita-cita tinggi, memadukan romansa, thriller, dan tragedi sejarah dalam satu nafas. Namun, ambisi besarnya itu seperti pedang bermata dua; melukiskan keindahan dan kedalaman yang memukau, tetapi juga meninggalkan luka pada fokus dan konsistensi narasinya.

Pada intinya, Gowok: Kamasutra Jawa bukanlah film yang hanya diukur dari adegan sensualnya. Film ini justru bercerita tentang mimpi dan patah hati di tengah belenggu budaya patriarki. Kita diajak menyelami kehidupan Ratri (diperankan dengan memesona oleh Alika Jantinia di masa muda dan Raihaanun di usia dewasa), seorang perempuan yang dipersiapkan untuk meneruskan profesi sakral sebagai gowok di bawah bimbingan Nyai Santi (Lola Amaria yang powerful). Dunia Ratri yang teratur kemudian berubah total dengan kedatangan Kamanjaya (Devano Danendra yang charming dan Reza Rahadian yang solid), seorang priyayi yang tidak hanya datang untuk belajar ilmu duniawi, tetapi juga membawa angin kebebasan dan cinta.

Hubungan yang terjalin antara Ratri dan Jaya adalah jiwa dari paruh pertama film. Chemistry yang terbangun antara Alika Jantinia dan Devano Danendra begitu nyata dan menghanyutkan, berhasil membuat penonton merasakan getar cinta pertama yang murni sekaligus tragis. Melalui hubungan inilah Hanung memasukkan falsafah di balik tradisi gowok dengan sangat elegan. Alih-alih menjadi film "esek-esek", adegan intim justru disutradarai secara puitis oleh Satria Kurnianto. Sinematografinya tidak mengeksploitasi, tetapi menyoroti emosi, edukasi seks, dan penghormatan terhadap orgasme perempuan yang berlandaskan pada kitab Serat Centhini. Pendekatan ini memberikan nuansa feminis yang halus namun terasa kuat, menegaskan bahwa seks adalah tentang harmoni dan cinta, bukan sekadar nafsu.

Di sinilah ambisi besar Hanung Bramantyo mulai menunjukkan retakannya. Setelah membangun fondasi cerita yang kuat dan menjanjikan, film ini tiba-tiba melebar tak terkendali saat melompat ke tahun 1965. Konflik pribadi Ratri dan Jaya yang sudah cukup kompleks, dibebani lagi dengan muatan-muatan eksternal yang masif: balas dendam yang berlarut-larut, konspirasi kelas atas, hingga gejolak politik sejarah Indonesia yang melibatkan Gerwani dan peristiwa 1965.

Transisi antara genre yang terjadi—dari drama romantis menjadi semi-tragedi sejarah, lalu berbelok menjadi film thriller—terasa kasar dan tidak mulus. Penonton yang sebelumnya terpukau oleh kedalaman hubungan para karakter, bisa jadi kebingungan dengan kemunculan adegan kejar-kejaran yang over-the-top dan revelasi plot twist yang beruntun seperti dalam sinetron. Elemen-elemen tambahan ini, alih-alih memperkaya, justru membuat narasi inti tentang "gowok" menjadi kehilangan arah dan gagal digali hingga tuntas. Alur cerita yang berantakan di paruh kedua ini menjadi penyebab utama nilai film ini tidak bisa mencapai titik yang lebih tinggi.

Well, secara pribadi saya sebenarnya tidak masalah dengan hal tersebut. Namun, perpindahan genre dan cerita ini menghasilkan beberapa adegan yang lumayan dragging, yang hampir-hampir mengganggu mood menonton secara keseluruhan.

Di sisi teknis, film ini adalah sebuah permata yang sedikit ternoda. Tim produksi pimpinan Edy Wibowo layak diacungi jempol. Set desain, properti, dan tata busana yang otentik berhasil menciptakan atmosfer Jawa tahun 50-60an yang hidup dan immersive. Setiap frame dipenuhi dengan detail budaya yang membuat penonton benar-benar terbawa ke masa itu.

Sayangnya, keindahan visual yang dibangun dengan susah payah ini ternoda oleh kualitas efek visual dan color grading yang di bawah standar. Banyak adegan, terutama yang melibatkan efek komputerisasi, terasa kaku dan tidak zaman sekarang. Selain itu, pilihan tone warna yang cenderung kuning pekat dan saturasi yang mencolok mata justru mengurangi keautentikan estetika yang telah diciptakan oleh set dan kostum. Masalah penyuntingan visual ini sangat terasa mengganggu dan sayangnya mengurangi kenikmatan dari sebuah film yang sebenarnya sangat visual-heavy.

Jika ada satu hal yang konsisten dan nyaris sempurna dalam film ini, itu adalah kualitas akting seluruh pemerannya. Raihaanun menghidupkan Ratri dewasa dengan nuansa luka batin, keanggunan, dan kekuatan yang menyentuh. Transformasi karakternya dari masa muda Alika Jantinia terasa sangat mulus dan logis. Reza Rahadian, meski durasinya tak sebanyak rekan lainnya, tetap menunjukkan kualitasnya dengan membawa beban emosional Kamanjaya dewasa dengan solid.

Lola Amaria, dalam comeback-nya setelah 11 tahun, sungguh memukau sebagai Nyai Santi. Kehadirannya di layar penuh wibawa, misterius, dan empati. Namun, pencuri adegan yang sesungguhnya justru datang dari Ali Fikry sebagai Bagas. Ia berhasil menampilkan kegilaan dan kompleksitas emosi yang mendebarkan, meninggalkan kesan mendalam meski di tengah gemuruhnya plot.

Gowok: Kamasutra Jawa adalah sebuah film yang layak untuk ditonton dan didiskusikan. Ia berhasil dengan gemilang dalam hal-hal fundamental: menghidupkan kembali tradisi yang nyaris hilang, menyajikan edukasi seks yang elegan, dan menampilkan pertunjukan akting yang memorabel. Visualnya yang secara umum indah dan pesan feminisnya yang kuat adalah pencapaian yang patut diacungi jempol.

Namun, film ini terjatuh oleh ambisinya sendiri yang terlalu besar. Narasi yang berantakan di paruh kedua, plot twist yang berlebihan, dan kualitas efek visual yang buruk menjadi noda yang mengganggu. Gowok: Kamasutra Jawa bagaikan permata yang belum diasah dengan sempurna; berkilau dan berharga, tetapi dengan cacat yang terlihat jelas. Film ini adalah sebuah tontonan yang kaya dan penting, terutama bagi mereka yang haus akan cerita-cerita budaya Indonesia, meski mungkin Anda akan merasa sedikit kecewa dengan potensi besarnya yang tidak sepenuhnya tergapai.

Rate: 7-8/10

Komentar