Film My Beloved Stranger (2025) menyajikan kisah penyesalan dan cinta yang terasa dekat, namun meninggalkan rasa penasaran yang dalam. Film ini seperti secangkir kopi yang hangat dan menghibur, tetapi kurang meninggalkan aftertaste yang kuat.
My Beloved Stranger (judul asli Shiranai Kanojo) mengisahkan Riku (Kento Nakajima) dan Minami (Milet), sepasang suami-istri yang menikah muda dengan masing-masing mimpi menjadi novelis dan penyanyi. Tahun berlalu, Riku meraih kesuksesan sementara mimpi Minami memudar, menciptakan jarak di antara mereka. Setelah pertengkaran hebat, Riku terbangun di realita alternatif: dirinya hanyalah seorang editor biasa, sedangkan Minami adalah penyanyi terkenal yang tak mengenalinya. Film ini kemudian mengikuti perjuangan Riku memahami dunia barunya dan berusaha mendapatkan kembali hati sang istri.
Transisi ke dunia alternatif terasa terlalu instan dan mekanismenya tidak pernah dijelaskan. Alih-alih mendalami "mengapa" realita berubah, film lebih fokus pada "apa" yang terjadi selanjutnya. Ini membuat konflik terasa seperti sekadar alat plot untuk memulai drama, bukan elemen fantasi yang organik. Beberapa subplot, seperti interaksi Riku dengan rekan kerjanya di dunia baru, terasa kurang relevan dan sedikit memperlambat tempo cerita utama yang sebenarnya sudah mudah ditebak.
Di tengah kelemahan naratif, kekuatan film ini justru terletak pada chemistry dua pemain utamanya. Kento Nakajima berhasil menghidupkan perjalanan emosional Riku dari seorang suami yang lalai dan ambisius menjadi sosok yang penuh penyesalan dan kepasrahan. Ekspresinya yang detail, terutama dalam adegan-adegan close-up saat menyadari Minami tak mengenalnya, berhasil menyentuh.
Milet, yang debut aktingnya di sini, adalah kejutan yang menyenangkan. Ia membawakan dua versi Minami dengan natural: yang satu adalah istri pendiam yang kecewa, dan satunya lagi adalah superstar yang percaya diri. Penampilan vokalnya, melalui lagu-lagu seperti I Still dan Nobody Knows, tidak sekadar menjadi soundtrack, tetapi benar-benar menjadi jiwa dan penanda emosi dari setiap adegan. Chemistry di antara mereka berdua terasa tulus dan menyenangkan untuk diikuti, menjadi penopang utama daya tarik film ini.
Kelebihan utama film ini terletak pada inti emosionalnya yang kuat dan chemistry para pemainnya. Film berhasil menyampaikan pesan universal tentang pentingnya menghargai pasangan sebelum semuanya terlambat, dan bagaimana kesuksesan karir bisa menjadi sangat hampa jika mengorbankan hubungan personal. Adegan-adegan kecil upaya Riku mendekati Minami di dunia baru, seperti mengingat hal-hal yang disukainya, terasa manis dan relatable. Juga, secara teknis, My Beloved Stranger adalah film yang indah dipandang. Sinematografi Mitsuru Komiyama memainkan palet warna dengan cerdas.
Di sisi lain, kekurangan film justru ada pada pengembangan ceritanya yang terkesan setengah hati. Film seperti tidak ingin menjadi lebih besar dari yang disajikan. Pendekatan lite-nya sebenarnya justru sedikit mengecewakan karena Riku berutang permintaan maaf kepada istrinya yang pada akhirnya tak pernah tersampaikan, dan penonton pun jadi bingung karena endingnya cukup ambigu dengan pertanyaan besar: Sebenarnya Riku sedang hidup di dunia yang mana?
My Beloved Stranger adalah film yang layak ditonton bagi penggemar drama romantis dengan sentuhan fantasi. Kekuatan chemistry Kento Nakajima dan Milet, serta sinematografi dan musik yang indah, berhasil menutupi beberapa kelemahan naratifnya. Film ini berfungsi sebagai pengingat yang mengharukan tentang penyesalan dan harga dari sebuah kelalaian dalam hubungan.
Film ini seperti sebuah draft novel yang menjanjikan: premisnya brilian, gaya bahasanya indah, dan tokohnya menarik, tetapi alurnya perlu penyuntingan dan pendalaman yang lebih lagi untuk menjadi sebuah karya yang benar-benar tak terlupakan. Ia menghibur, menyentuh, dan membuat Anda merenung, tetapi mungkin tidak akan lama tertinggal dalam pikiran setelah credit roll berakhir.
Rate: 7-/10
.webp)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar