Dalam dunia horor Indonesia yang sering terjebak dalam formula jump-scare, Sihir Pelakor (2025) hadir dengan niat serius. Film yang terinspirasi kisah nyata dari podcast viral RJL 5 ini berusaha mengupas luka terdalam keluarga: kehancuran rumah tangga akibat perselingkuhan yang dibungkus sihir. Dengan mengusung tema trauma anak dan drama psikologis, film ini layak mendapat apresiasi, meski dalam perjalanannya tersandung oleh beberapa kekurangan teknis yang signifikan.
Film ini bercerita tentang Vita (Neona Ayu), seorang siswi SMP yang hidupnya berantakan setelah ayahnya, Edi (Fathir Muchtar), terperangkap dalam perselingkuhan dengan Rini (Asmara Abigail). Namun, ini bukan cinta terlarang biasa. Rini menggunakan ilmu hitam Sabdo Pandito, sihir kuno yang diyakini dapat menundukkan pikiran dan hati seseorang, untuk merebut Edi sepenuhnya dari keluarganya. Yang kemudian menyusul bukan hanya drama pengkhianatan, melainkan teror gaib yang secara sistematis menggerogoti keutuhan keluarga Vita. Ayahnya berubah drastis menjadi dingin dan kasar, sang ibu, Jumiati (Marcella Zalianty), jatuh sakit oleh tekanan batin dan gangguan tak kasatmata, sementara Vita berjuang mati-matian mempertahankan bayangan cinta sang ayah.
Di sinilah kekuatan utama Sihir Pelakor bersinar. Sutradara Bobby Prasetyo, dengan cermat, membangun horor yang lebih mengandalkan atmosfer ketimbang teror instan. Ketegangan datang dari sunyi yang mencekam di ruang makan, dari tatapan kosong seorang ayah yang telah dirasuki, dan dari jerit tangis ibu yang semakin melemah. Film ini sukses menjadikan rumah biasa—bukan rumah besar angker—sebagai lokasi horor yang sangat efektif karena terasa dekat dan relatable. Horornya bersifat psikologis, lahir dari rasa kehilangan, pengkhianatan, dan luka batin anak yang menyaksikan keluarganya hancur perlahan. Pendekatan ini memberikan kedalaman yang jarang ditemui di film horor lokal yang hanya mengandalkan mahluk gaib dan darah muncrat.
Duet akting para pemeran utamanya juga menjadi pilar penopang film. Neona Ayu, yang biasa kita kenal sebagai penyanyi, memberikan performa mengejutkan sebagai Vita. Ia berhasil menampilkan kerapuhan seorang anak yang ketakutan sekaligus kekuatan seorang anak yang nekad menyelamatkan keluarganya. Marcella Zalianty menghadirkan kepedihan seorang istri yang terluka dengan sangat mengharu-biru, sementara Asmara Abigail tepat sebagai pelakor yang menggoda, dingin, dan penuh teka-teki. Fathir Muchtar juga berhasil memerankan Edi dengan baik, membuat penonton geram akan perubahan sikapnya yang drastis.
Sayangnya, di balik kekuatan narasi dan akting tersebut, ada beberapa kekurangan yang cukup mengganggu dan menjadi alasan rating ini tidak lebih tinggi. Yang paling mencolok adalah eksekusi efek visual (CGI). Dalam beberapa adegan penting yang melibatkan penampakan entitas gaib atau sihir, efek yang ditampilkan terlihat kurang halus dan tidak seamless dengan lingkungan sekitar. Beberapa penonton bahkan menyoroti adegan tertentu, seperti saat tubuh Vita terpelintir, yang efek CGInya dianggap masih kurang memuaskan. Ketidaksempurnaan ini secara tak sengaja dapat mengurangi rasa ngeri dan justru mengalihkan perhatian penonton.
Selain itu, meski alur utama kuat, penjelasan mengenai dunia gaib dan aturan sihir Sabdo Pandito itu sendiri terasa dangkal. Film lebih fokus pada dampaknya terhadap keluarga, tetapi sedikit mengabaikan eksplorasi tentang "musuh" yang mereka hadapi. Beberapa sub-plot juga tampak kurang berkembang, meninggalkan rasa ingin tahu yang belum terjawab. Ending film, yang berusaha menghadirkan penutup emosional dan penyembuhan trauma, bagi sebagian penonton mungkin terasa terlalu terbuka atau kurang memberikan kepuasan dramatik yang solid.
Secara keseluruhan, Sihir Pelakor adalah sebuah percobaan yang patut diacungi jempol dalam jagad horor Indonesia. Film ini berani mengangkat tema psikologis yang kompleks dan menyajikan horor melalui ketegangan batin yang realistis. Ia berhasil membuat penonton lebih takut pada kenyataan pahit kehancuran keluarga daripada pada hantu yang berkeliaran. Performa para pemain, terutama Neona Ayu dan Marcella Zalianty, adalah daya tarik utama lainnya.
Namun, kekurangan di bagian teknis visual dan kedalaman penjelasan mitologi sihirnya mencegah film ini mencapai potensi terbaiknya. Ia seperti sebuah permata yang masih perlu diasah lebih lanjut. Dengan durasi 93 menit, film ini menawarkan pengalaman menonton yang emosional dan cukup mencekam. Bagi Anda yang mencari horor dengan kedalaman cerita dan muatan drama keluarga yang kuat, Sihir Pelakor layak ditonton.
Rate: 6+/10
Rating ini mencerminkan apresiasi pada niat dan substansi ceritanya, sekaligus pengakuan bahwa masih ada ruang yang luas untuk peningkatan.
.jpg)
.webp)
Komentar
Posting Komentar