Ulasan Film La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka (2025): Sebuah Eksperimen Genre yang Ambisius namun Tidak Konsisten
"La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka" adalah sebuah film yang berani. Berani mencampurkan terlalu banyak rasa ke dalam satu piring, berani memutar balik ekspektasi penonton di tengah jalan, dan berani mengangkat kisah yang dekat sekaligus kontroversial di masyarakat. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang memiliki momen-momen gemilang, khususnya dalam hal pemeranan karakter, namun terperosok oleh ketidakjelasan identitas dan alur yang terasa dipaksakan.
Film yang diadaptasi dari kisah viral ini berkisah tentang keluarga Alina (Marshanda) dan Reza (Deva Mahendra) yang harmonis, hingga kehadiran Asih (Ariel Tatum) sebagai pengasuh baru mengobrak-abrik fondasi rumah tangga mereka. Awalnya, film berjalan sebagai drama keluarga konvensional yang cukup kuat. Kita disuguhi dinamika kesibukan Alina sebagai wanita karier, kepasrahan Reza, serta strategi halus Asih dalam menyusup ke dalam keintiman keluarga.
Ketegangan dibangun secara psikologis, lewat tatapan, dialog bermuka dua, dan pelanggaran batas-batas personal yang halus. Adegan-adegan awal ini digarap dengan detail yang cukup memuaskan, menyiapkan penonton untuk sebuah konflik realistis tentang perselingkuhan dan pengkhianatan.
Namun, Hanung Bramantyo memilih untuk tidak berhenti di situ. Di separuh akhir film, terjadi pergeseran genre yang drastis dan mengejutkan. Konflik yang awalnya bersifat psikologis dan sosial tiba-tiba menjelma menjadi pertarungan horor mistis, di mana ilmu hitam dan ritual menjadi penjelasan atas semua tindakan karakter.
Twist ini, meskipan dimaksudkan untuk menghindari kebosanan dan memberikan kejutan, justru menjadi bumerang. Alih-alih memperdalam konflik, kehadiran elemen supranatural ini justru meredam kompleksitas psikologis yang telah dibangun. Perselingkuhan dan pengkhianatan yang seharusnya terasa nyata dan pedih, tiba-tiba memiliki "kambing hitam" bernama guna-guna, sehingga menghilangkan dimensi tanggung jawab moral dan kelemahan manusiawi dari karakter-karakter yang terlibat.
Di tengah semua kebingungan genre ini, satu hal yang tetap berdiri kokoh adalah perform akting dari para pemeran utamanya. Marshanda, sekali lagi, membuktikan kelasnya. Ia tidak sekadar menangis; ia memancarkan seluruh spektrum rasa sakit seorang istri yang dikhianati: kemarahan yang membara, kebingungan yang menyayat, kekuatan untuk bertahan, dan kerapuhan seorang ibu yang takut kehilangan keluarganya. Ia adalah poros emosional film yang membuat penonton tetap bisa berempati meski cerita sudah melayang ke mana-mana.
Ariel Tatum juga layak diacungi jempol dalam memerankan Asih. Ia berhasil membawa nuansa ambigu; dari sosok polos dan religius berkerudung, berubah menjadi penggoda yang manipulatif, dan akhirnya menjadi antagonis dengan energi gelap. Namun, penulisan karakter Asih yang tidak konsisten—antara korban keadaan, wanita ambisius, atau sekadar alat dari kekuatan magis—membuat performa Ariel terkadang terasa seperti berjalan di tempat tanpa perkembangan motivasi yang jelas.
Deva Mahenra, yang kembali memerankan suami berselingkuh, cukup meyakinkan dalam menggambarkan kelemahan dan konflik batin, meski karakternya, Reza, akhirnya lebih terasa seperti boneka yang digerakkan oleh plot daripada manusia yang membuat pilihan sadar.
Dengan durasi mencapai 2 jam 19 menit, film ini jelas memiliki ambisi besar. Sayangnya, durasi panjang itu tidak diimbangi dengan alur yang ketat dan efisien. Banyak adegan dan subplot—seperti konflik dengan asisten rumah tangga lain—yang meski menghadirkan unsur komedi, terasa seperti pengisi waktu dan tidak terintegrasi dengan mulus ke dalam narasi utama. Alih-alih merasa terhubung, penonton justru mungkin akan merasa kelelahan dan bertanya-tanya ke mana sebenarnya fokus cerita ini.
Pada akhirnya, "La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka" adalah film yang mencoba menjadi segalanya untuk semua orang. Ia ingin menjadi drama keluarga yang menyentuh, thriller psikologis yang mendebarkan, dan horor mistis yang seram, ditambah dengan selingan komedi. Hasilnya adalah sebuah karya yang tidak sepenuhnya sukses dalam genre apa pun. Film ini seperti melihat dua film berbeda disatukan dengan paksa: satu film drama tentang perselingkuhan yang potensial, dan satu film horor-mistik dengan resolusi yang tergesa-gesa.
Kabar baiknya, film ini memiliki pengambilan gambar yang kompeten, sinematografi yang baik, dan terutama akting kelas atas dari Marshanda yang membawa beban emosional film. Namun, jelas ada kekecewaan pada skenario yang tidak fokus, perpaduan genre yang tidak menyatu, dan twist yang justru melemahkan dampak emosional cerita yang sebenarnya sangat manusiawi dan relatable.
Film ini layak ditonton untuk mengapresiasi akting para pemainnya dan untuk mengalami sendiri eksperimen genre yang ambisius—meski berantakan—dari Hanung Bramantyo. Namun, bersiaplah untuk mematikan layar dengan perasaan campur aduk, antara terhibur oleh beberapa momen yang kuat, dan frustrasi oleh potensi besar yang akhirnya tidak tercapai.
Rate: 5,5 / 10
.jpeg)
.png)
Komentar
Posting Komentar