Ulasan Film The Legend of Hei 2 (2025): Perjalanan Si Kecil dalam Dunia yang Semakin Luas

Setelah tahun-tahun penantian, The Legend of Hei 2 akhirnya membawa kita kembali ke dunia di mana manusia dan roh (yaojing) berusaha hidup berdampingan dalam harmoni yang rapuh. Film ini bukan sekadar lanjutan dari petualangan kucing hitam yang menggemaskan itu, melainkan sebuah evolusi yang matang. Jika film pertama memperkenalkan kita pada kehangatan keluarga temu antara Xiaohei dan gurunya yang manusia, Wuxian, maka sekuel ini mengambil risiko dengan memisahkan mereka dan melemparkan Xiaohei ke dalam konflik yang lebih gelap dan kompleks. Sebuah karya yang secara teknis memukau dan penuh hati, meski beberapa pilihan naratifnya meninggalkan sedikit kerinduan akan kesederhanaan dan keintiman yang menjadi ciri khas awal.

Cerita dimulai ketika sebuah serangan brutal terhadap guild roh menjadikan Wuxian sebagai tersangka utama. Di tengah kecurigaan dan ketegangan yang siap memicu perang, Xiaohei yang setia tidak tinggal diam. Bersama seniornya, Luye – murid Wuxian sebelumnya – mereka memulai misi berbahaya untuk membuktikan kesalahan gurunya dan menemukan kebenaran di balik konspirasi yang mengancam kedamaian kedua ras

Alur ini segera menjadi bingkai bagi sebuah perjalanan yang lebih dalam, bukan hanya mencari bukti, tetapi juga mencari jati diri. Xiaohei, roh yang dibesarkan dan dipercayai oleh manusia, dipaksa untuk mempertanyakan keyakinannya yang naif. Di sinilah film menemukan kekuatan emosionalnya: konflik batin seorang anak yang melihat dunia hitam-putihnya mulai pudar menjadi berbagai warna abu-abu.

Dari segi visual, The Legend of Hei 2 adalah sebuah mahakarya yang tak terbantahkan. Tim produksi yang rela menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakannya berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang benar-benar imersif. Estetika 2D-nya yang khas menjadi napas segar di tengah dominasi animasi 3D, menghadirkan keindahan budaya dan seni Tiongkok dengan cara yang memukau mata

Apa yang paling mencolok adalah bagaimana dunia ini dibangun. Latar belakang bukan sekadar lukisan statis; mereka hidup. Dari lumut di genteng hingga warna-warni pepohonan di musim dingin, dari ramainya jalanan kota hingga kedalaman hutan yang sunyi, setiap detail diperhatikan dengan cinta. Harmoni yang dicoba dicapai oleh cerita antara alam dan teknologi, tradisi dan modernitas, tercermin sempurna dalam visual yang terkadang terasa seperti lukisan tinta hidup yang diselingi elemen cyberpunk yang halus.

Adegan pertarungan, tentu saja, adalah salah satu puncaknya. Koreografi aksinya tidak hanya cepat dan dinamis, tetapi juga penuh dengan keanggunan dan logika internal yang jelas. Animasi yang dilakukan "on the ones" (setiap frame digambar) untuk adegan-adegan kunci menghasilkan fluiditas gerak yang sangat mulus, membuat setiap pukulan, tendangan, dan ledakan energi terasa memiliki bobot dan dampak yang nyata. Adegan dimana Luye bertarung dengan efek seperti lukisan tinta adalah momen yang benar-benar tak terlupakan, memadukan kekuatan dan keindahan dengan sempurna.

Kekuatan terbesar waralaba ini selalu terletak pada hubungan antar karakternya. Dalam film ini, kita mendapatkan dua dinamika utama yang berbeda. Di satu sisi, ada ikatan antara Xiaohei dan Wuxian yang, sayangnya, di film kedua ini tidak terlalu banyak lagi ditampilkan. Kekosongan itu kemudian diisi oleh kehadiran Luye. Senior yang dingin, kuat, dan penuh luka masa lalu ini adalah tambahan yang brilian. 

Dinamika antara Luye dan Xiaohei tidak mencoba meniru hubungan mentor-murid yang sebelumnya. Ini lebih seperti hubungan kakak-adik yang awalnya canggung, penuh gesekan, tetapi lambat laun berkembang menjadi saling percaya dan melindungi. Luye adalah karakter yang kompleks; kebenciannya terhadap manusia karena trauma genosida yang dialami bangsanya bertolak belakang dengan pengabdiannya pada Wuxian, seorang manusia. Konflik inilah yang mendorong perkembangan karakternya dan menjadi cermin bagi perjalanan Xiaohei sendiri. Melalui Luye, Xiaohei (dan penonton) menyadari bahwa jalan menuju koeksistensi dipenuhi dengan rasa sakit dan pengkhianatan sejarah, bukan hanya idealisme sederhana.

The Legend of Hei 2 jelas merupakan lompatan kualitas yang signifikan. Dunianya lebih luas, konfliknya lebih mendalam, dan animasinya lebih spektakuler. Film ini berani membahas tema-tema berat seperti prasangka, balas dendam, rekonsiliasi, dan beban sejarah dengan cara yang tidak menggurui.

Namun, ada sedikit pengorbanan yang terasa. Saya merasakan bahwa pemisahan antara Xiaohei dan Wuxian, meski penting bagi perkembangan plot, sedikit menguras "vibe" penyembuhan dan kehangatan sehari-hari yang membuat film pertama begitu menawan. Film ini memilih untuk menjadi lebih epik dan serius, yang merupakan pilihan sah, tetapi terkadang pacing-nya terasa tidak merata, dengan beberapa adegan investigasi di bagian tengah terasa kurang momentum dibandingkan dengan adegan pembuka dan penutup yang sangat intens. 

Selain itu, meski bisa dinikmati sebagai film mandiri, beberapa nuansa emosional dan "hidden eggs" yang disisipkan tentu akan lebih terasa menghujam bagi mereka yang mengikuti perjalanan karakter ini dari film dan serial pendahulunya.

Secara keseluruhan, The Legend of Hei 2 adalah bukti nyata dedikasi dan cinta pada seni animasi. Film ini tidak hanya menghibur dengan aksi yang memukau dan visual yang memanjakan mata, tetapi juga mengajak kita merenung tentang perdamaian, kepercayaan, dan pilihan untuk berbuat baik di tengah dunia yang penuh konflik. Pesannya sederhana namun kuat: perdamaian sejati mungkin dimulai dari hal-hal kecil – dari hubungan antar individu, dari tindakan kasih sayang sehari-hari, seperti yang diajarkan Wuxian kepada murid-muridnya

Bagi penggemar film pertama, ini adalah sebuah kepuasan yang layak ditunggu. Bagi penonton baru, ini adalah pintu gerbang yang megah menuju dunia fantasi yang kaya dan penuh hati. Film ini mungkin tidak sempurna, tetapi ia adalah karya jujur yang layak mendapatkan sambutan. Sebuah sekuel yang berhasil mengembangkan sayapnya tanpa melupakan akar yang membuatnya dicintai.

Rate: 7,5+ / 10

Komentar