Film Predator: Badlands hadir dengan niat yang jelas dan berani: membalikkan narasi yang telah puluhan tahun kita kenal. Jika sebelumnya kita berdiri di barisan manusia yang diteror oleh kehadiran makhluk asing yang tak kasat mata dan brutal, kali ini kamera justru berpihak pada sang pemburu itu sendiri.
Disutradarai oleh Dan Trachtenberg, yang sebelumnya sukses menghidupkan kembali semangat franchise ini lewat Prey, film ini bukan sekadar sekuel, melainkan sebuah rekontekstualisasi. Ia mengajak kita menyelami dunia Yautja, bukan sebagai monster, tetapi sebagai individu dengan hierarki, ambisi, dan konflik internalnya sendiri. Film ini berhasil menjadi sebuah petualangan sci-fi yang solid dan menghibur, meski beberapa pilihannya terasa aman dan kurang menggigit dibanding potensi gelap yang dimilikinya.
Predator: Badlands bercerita tentang Dek, sesosok Yautja muda yang dianggap lemah dan "runt" (anak cacat) di antara bangsanya. Dalam budaya yang mengagungkan kekuatan fisik dan keahlian berburu, statusnya yang rendah membuatnya dihinakan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Dorongan untuk membuktikan diri membawanya melakukan tugas paling berbahaya: pergi ke Genna, sebuah planet yang dijuluki "Planet Kematian", untuk memburu makhluk legendaris bernama Kalisk yang dianggap mustahil untuk dikalahkan.
Premis perjalanan heroik ini adalah fondasi yang kuat. Kita langsung terseret untuk bersimpati pada Dek. Ekspresi di balik topengnya, yang diperankan dengan kuat oleh Dimitrius Schuster-Koloamatangi, berhasil menyampaikan kebanggaan yang terluka, tekad membara, dan keraguan yang manusiawi. Adegan pembuka di dunia asal Yautja, meski singkat, berhasil membangun aturan sosial mereka yang keras dan tanpa ampun.
Di Genna, Dek tidak sendirian. Ia menemukan Thia (diperankan dengan cemerlang oleh Elle Fanning), sebuah android separuh badan—hanya torso dan lengan—yang hancur setelah pertemuan fatal dengan Kalisk. Inilah jantung dari film Predator: Badlands. Dinamika antara Dek yang pendiam, angkuh, dan berpegang teguh pada kode kehormatan pemburu, dengan Thia yang cerewet, penuh rasa ingin tahu, dan secara paradoks sangat "manusiawi", menciptakan chemistry yang menyegarkan.
Thia bukan sekadar sidekick; ia adalah katalis yang mengubah perjalanan Dek. Melalui interaksi mereka, film ini mengeksplorasi tema-tema menarik seperti makna sejati dari kekuatan, kelemahan sebagai sebuah kelebihan, dan arti menjadi "hidup". Fanning memainkan peran ganda, karena juga memerankan Tessa, android kembaran Thia yang memiliki kepribadian dingin dan mematikan, menambah lapisan konflik dan tema identitas yang menarik.
Dunia Genna sendiri adalah sebuah karakter. Trachtenberg dan timnya merancang ekosistem alien yang kreatif dan mematikan, penuh dengan flora dan fauna yang bukan sekadar latar, tetapi bagian integral dari tantangan dan solusi yang dihadapi Dek. Ada momen-momen survival yang cerdas di mana Dek harus menggunakan sumber daya planet, meninggalkan sementara teknologi canggihnya, yang mengingatkan kita pada daya tarik primal dari film-film Predator terdahulu.
Namun, di sinilah salah satu titik kritik muncul. Meski dirancang dengan baik, beberapa pengamat merasa visual dunia ini terkadang terasa "sintetis" dan kurang memiliki tekstur serta geografi yang memuaskan dibandingkan keaslian visual yang ditampilkan di Prey. Aksi dan pertarungan, meski konstan dan dipace dengan cepat, terkadang terpotong atau diframing dengan cara yang mengurangi dampak kinetiknya, mungkin sebagai konsekuensi dari rating PG-13 yang diembannya.
Di balik segala aksi dan petualangan spektakulernya, Predator: Badlands pada intinya adalah sebuah cerita tentang pertumbuhan. Perjalanan Dek dari seorang pemburu yang haus pengakuan menjadi seorang pahlawan yang memahami makna lebih dalam dari "alfa" adalah arc karakter yang memuaskan. Film ini dengan lihai membalikkan narasi machismo yang sering melekat pada franchise ini.
Kekuatan sejati, menurut Badlands, bukanlah tentang berburu sendirian dan mengumpulkan trofi, tetapi tentang kepemimpinan, melindungi yang lemah, dan membentuk ikatan. Pesan ini disampaikan melalui hubungannya yang tidak terduga tidak hanya dengan Thia, tetapi juga dengan makhluk kecil mirip monyet bernama Bud, yang meski bagi sebagian penonton fanatik terasa terlalu "lucu" untuk dunia Predator, berfungsi sebagai simbol dari naluri protektif Dek.
Dari segi teknis, film ini merupakan produksi yang kompeten. Desain suara dan score-nya efektif membangun atmosfer, meski sayangnya tema ikonik Alan Silvestri dari film original tidak hadir, yang mungkin akan dirindukan oleh para puritan. Make-up dan efek praktikal untuk Yautja tetap mengesankan, mengingatkan kita bahwa di balik segala CGI, jantung dari makhluk ini tetap ada pada performer di dalam suit.
Predator: Badlands adalah sebuah keberanian yang patut diacungi jempol. Film ini tidak takut untuk mengubah perspektif, mengembangkan lore, dan menawarkan jenis cerita yang berbeda dalam waralaba yang sudah mapan. Ia berhasil sebagai sebuah film petualangan sci-fi yang menghibur, dengan karakter utama yang mudah disukai dan dinamika hubungan yang menjadi penopang cerita. Elle Fanning dan Dimitrius Schuster-Koloamatangi adalah pasangan duo yang sukses membawa film ini.
Film ini memilih jalur yang lebih "ramah keluarga" dan terkadang terasa seperti menahan diri. Beberapa pilihan visual dan penyutradaraan aksi tidak se-inovatif atau se-impak yang diharapkan, dan elemen "keimutan" tertentu mungkin tidak cocok dengan selera semua penggemar lama.
Namun, secara keseluruhan, Badlands adalah napas udara segar. Ia membuktikan bahwa dunia Predator masih sangat kaya untuk dieksplorasi, dan dengan membiarkan sang pemburu akhirnya menjadi pahlawan, Trachtenberg telah membuka pintu untuk kemungkinan cerita yang lebih luas dan dalam lagi di masa depan. Sebuah film yang layak untuk ditonton, baik oleh penggemar setia maupun penonton yang mencari petualangan antariksa yang solid.
Rate: 8/10
.webp)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar