Ulasan Film Thamma (2025): Twilight Saga ala India yang Cukup Manis

Di jagat sinema yang terus berputar, kadang sebuah film datang membawa bayangan-bayangan familiar. Thamma (2025), dengan kisah cinta antara manusia biasa, Alok (Ayushmann Khurrana), dan makhluk supernatural, Tadaka (Rashmika Mandanna), tak pelak akan mengingatkan banyak penonton pada fenomena global lebih dari satu dekade lalu: Twilight Saga. Ada resonansi yang kuat dan disengaja di sini—sebuah formula “manusia jatuh cinta pada makhluk abadi yang terlarang” yang telah terbukti magnetis. 

Namun, Thamma bukan sekadar duplikasi; ia adalah reinterpretasi yang berusaha mengakar pada mitologi lokal India, mengganti vampir Cullen yang glamor dari Forks dengan komunitas Betaal yang lahir dari trauma Partisi 1947. Dalam upaya ambisius inilah letak pesona dan sekaligus kelemahannya, sebuah karya yang memahami daya pukul konsepnya, tetapi belum sepenuhnya menemukan suara orisinal yang sama menggugah.

Tidak dapat dimungkiri, kerangka dasar Thamma berbagi DNA naratif dengan Twilight. Keduanya berpusat pada protagonis pria biasa (Alok) yang dunianya terbalik setelah bertemu perempuan misterius nan cantik dari dunia lain (Tadaka), memicu konflik antara hasrat pribadi dan aturan komunitas makhluk yang melarang hubungan dengan manusia. Ketegangan “will they or won’t they” dan bahaya yang mengintai karena hubungan terlarang itu menjadi motor penggerak cerita. 

Namun, di sinilah Thamma berusaha membedakan diri. Jika Twilight beroperasi dalam estetika gotik-melankolis Pacific Northwest dan lore vampir Kristen, Thamma membawa kita ke dalam hutan dan ruang urban India, dengan mitologi Betaal yang diambil dari cerita rakyat. Transformasi Alok menjadi Betaal, yang menjadi titik balik utama, adalah sebuah inversi dari saga Stephenie Meyer—di sini, Thamma mencoba menciptakan dinamika kuasa dan penyesuaian yang berbeda. Sayangnya, upaya untuk membangun dunia (world-building) yang kompleks ini sering kali tenggelam dalam eksposisi yang bertele-tele, sehingga magis dan aturan komunitas Betaal tak sepenuhnya terasa hidup atau mengancam seperti dalam Twilight.

Salah satu pilar kesuksesan Twilight adalah chemistry elektrik dan dinamika “manusia-rapuh vs vampir-pelindung” antara Robert Pattinson dan Kristen Stewart. Thamma mencoba menciptakan dinamika serupa dengan pasangan Ayushmann Khurrana dan Rashmika Mandanna. Hasilnya beragam. Di satu sisi, mereka berdua memiliki kehadiran layar yang kuat dan momen-momen manis yang tereksekusi dengan baik. Namun, chemistry mereka sering kali lebih terasa seperti percikan api yang terkurung, tidak meledak menjadi kobaran api yang menghanyutkan. 

Hubungan mereka berkembang terlalu cepat, melompat dari ketertarikan ke pengorbanan abadi tanpa tahap pengembangan emosional yang mendalam. Berbeda dengan perjalanan cinta Bella dan Edward yang dibumbui ketakutan, penolakan, dan dialog filosofis tentang jiwa, kisah Alok dan Tadaka terasa lebih fungsional—digerakkan oleh kebutuhan plot untuk konflik dengan antagonis Yakshasan (Nawazuddin Siddiqui). Romansa mereka kurang bernuansa dan lebih banyak diceritakan daripada ditunjukkan, sehingga ikatan emosional yang seharusnya menjadi jantung cerita terasa agak datar dan tidak semendalam yang diharapkan.

Di Twilight, ancaman dari Volturi atau vampir nomaden memberikan ketegangan konstan yang memperkuat ikatan pasangan utama. Di Thamma, ancaman datang dari Yakshasan, Betaal pemberontak yang haus kekuasaan. Meski diperankan oleh aktor sekaliber Nawazuddin Siddiqui, karakter ini sayangnya ditulis sebagai antagonis yang cukup satu dimensi—motivasinya kurang dieksplorasi, sehingga kehadirannya lebih sebagai penghalang plot daripada ancaman filosofis atau emosional yang mendalam. 

Di sisi lain, di mana Thamma benar-benar bersinar dan mungkin melampaui pendahulu globalnya adalah dalam spektakel visual dan ambisi skala. CGI yang menciptakan dunia Betaal, desain produksi, dan urutan aksi jauh lebih rumit dan berbudaya besar dibandingkan dengan film-film Twilight di eranya. Adegan-adegan aksi, meski terkadang membuat alur terpotong, menunjukkan komitmen untuk menghibur dalam skala blockbuster. Namun, sekali lagi, kekuatan visual ini tidak sepenuhnya berhasil menutupi kelemahan naratif di baliknya.

Pada akhirnya, Thamma adalah bukti menarik tentang bagaimana sebuah konsep populer global dapat diadopsi dan diadaptasi oleh sinema lokal. Film ini menyadari daya tarik abadi dari cerita cinta terlarang antara manusia dan makhluk supernatural, warisan yang dipopulerkan oleh Twilight Saga. Ambisinya untuk membingkai ulang cerita ini dengan estetika, mitologi, dan emosi India patut diacungi jempol. 

Namun, film ini terjebak di antara dua dunia: ingin menjadi saudara spiritual dari sebuah fenomena budaya yang intim dan penuh gairah, tetapi juga ingin menjadi batu pijakan epik dan visual untuk sebuah cinematic universe yang lebih besar. Hasilnya, ia kehilangan kedalaman karakter dan ketegangan romantis yang memikat jutaan penggemar Twilight, sementara juga belum sepenuhnya memanfaatkan potensi unik mitologi Indianya sendiri. 

Thamma adalah tontonan yang menyenangkan untuk mata dan penggemar genre, sebuah “Twilight ala India” yang memadukan masala dengan supernatural. Namun, seperti bulan yang selalu menyembunyikan satu sisinya, film ini juga menyembunyikan potensi cerita yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih orisinal yang sayangnya belum terjelajahi. Berita baiknya, secara komersil film ini termasuk sukses sehingga setidaknya bisa berharap lampu hijau untuk melanjutkan ending film yang dibuat menggantung.

Rate: 6,5 / 10

Komentar