Ulasan Anime Boku no Hero Academia: Final Season (2025) - Akhir yang Memuaskan untuk Perjalanan Menjadi Pahlawan Terhebat

Setelah hampir satu dekade, saga epik Izuku Midoriya akhirnya mencapai garis finisnya. Boku no Hero Academia: Final Season (2025) alias Season ke-8, bukan sekadar musim penutup; ia adalah puncak gunung dari semua pelatihan, air mata, dan pertempuran yang kita saksikan sejak musim pertama. Sebagai seorang penggemar yang telah mengikuti perjalanan Deku dari anak-anak tanpa quirk hingga simbol harapan, menonton musim final ini terasa seperti menyelesaikan sebuah perjalanan panjang bersama sahabat lama.

Musim ini langsung menerjunkan kita ke dalam pusaran Final War Arc tanpa ampun. Pertarungan tersebar di berbagai front, tetapi sorotan utama tetap pada tiga duel legendaris: All Might melawan All For One, Bakugo menghadapi All For One, dan puncaknya, Deku berhadapan dengan Tomura Shigaraki

Studio Bones benar-benar mengerahkan semua kemampuannya di sini. Setiap pukulan, ledakan, dan benturan tidak hanya terasa secara visual, tetapi juga dibebani oleh beban emosi bertahun-tahun. Adegan All Might, meski tanpa quirk, bertarung dengan bantuan perangkat teknologi dan kecerdasannya adalah penghormatan terakhir bagi simbol perdamaian, menunjukkan bahwa jiwa kepahlawanannya tak pernah padam.

Namun, pertarungan yang paling menggugah secara filosofis adalah antara Deku dan Shigaraki. Ini bukan lagi sekadar pertarungan fisik antara baik dan jahat, melainkan pertarungan ideologi. Deku berusaha menjangkau sisa kemanusiaan Tenko Shimura yang tersembunyi jauh di dalam diri Shigaraki. Adegan metaforis di dalam kesadaran Shigaraki, di mana kita melihat kedua karakter sebagai anak-anak, dengan brilian menyimpulkan tema inti seri ini: pilihan dan lingkungan. 

Flashback yang mendalam akhirnya mengungkap tragedi Shigaraki secara utuh, memberikan konteks yang membuatnya menjadi salah satu antagonis paling tragis dalam shonen modern. Di sinilah kelebihan musim ini bersinar: ia tidak hanya memberikan spektakel pertarungan, tetapi juga menyediakan ruang untuk introspeksi dan penutupan emosional.

Musim final berfungsi sebagai kanvas bagi penyelesaian busur karakter utama. Izuku Midoriya membuktikan bahwa ia bukan lagi fanboy yang menangis, melainkan pahlawan sejati yang siap memikul tanggung jawab tertinggi. Keputusannya di puncak pertarungan, yang melibatkan pengorbanan besar terhadap One For All, adalah momen puncak dari perkembangannya. Ia memahami bahwa esensi kepahlawanan terletak pada hati, bukan sekadar kekuatan

Sementara itu, Katsuki Bakugo benar-benar menjadi bintang yang tak terduga di musim ini. Pertarungan solonya melawan All For One bukan sekadar pamer kekuatan; itu adalah penyempurnaan redemption arc-nya yang panjang. Ia membuktikan bahwa warisan All Might tidak hanya dipegang oleh Deku, tetapi juga oleh dirinya yang berjuang dengan caranya sendiri. Kedewasaannya terasa nyata, dan momen emosionalnya di sisi Deku pasca-pertarungan adalah salah satu adegan terkuat.

Di sisi gelap, Shigaraki mendapatkan penutupan yang ia butuhkan. Musim ini berhasil memanusiakannya tanpa mengampuni kejahatannya. Rekonsiliasi terakhirnya dengan Deku, atau lebih tepatnya dengan kenangan Tenko Shimura, terasa pahit namun perlu.

Dari segi produksi, ini adalah puncak pencapaian Studio Bones untuk waralaba ini. Animasi dalam pertarungan-pertarungan kunci benar-benar top-tier, dengan alur gerak yang fluid dan komposisi yang memukau. Warna-warna bisa bergeser dari palet cerah kenangan masa kecil ke bayangan gelap dan suram medan pertempuran, memperkuat nuansa ceritaPenggunaan lagu tema ikonik "You Say Run" pada momen-momen kritis berhasil memompa adrenalin dan nostalgia secara bersamaan, menjadi pukulan emosional langsung bagi para penggemar lama

Setelah klimaks yang intens, seri ini mengambil napas panjang dengan epilog yang bijak. Melompat maju beberapa tahun, kita disuguhi kehidupan para karakter setelah mereka dewasa. Yang menyenangkan, tidak semua menjadi pahlawan lapangan. Ada yang menjadi guru, konselor, atau menjalani jalan hidup lainnya, menunjukkan bahwa kepahlawanan memiliki banyak wajah. Adegan pembuka epilog, di mana seorang wanita tua mengulurkan tangan kepada seorang anak yang bingung—cerminan langsung dari masa lalu Shigaraki—adalah cara yang indah dan full-circle untuk menyampaikan pesan akhir seri: siapapun bisa menjadi pahlawan dengan mengulurkan tangan.

Boku no Hero Academia: Final Season mungkin tidak sepenuhnya bebas dari konvensi shonen—beberapa dialog pertarungan yang bombastis dan pacing yang terkadang tidak merata masih ada. Namun, kelebihannya jauh lebih besar. Ia berhasil mengikat semua benang cerita, memberikan penutupan emosional yang tulus kepada karakter-karakternya, dan yang terpenting, tetap setia pada pesan hati tentang harapan, ketekunan, dan makna kepahlawanan yang sesungguhnya. 

Musim ini berdiri sebagai akhir yang solid dan memuaskan. Ia mengingatkan kita bahwa perjalanan Izuku Midoriya untuk menjadi pahlawan terhebat bukan hanya tentang mengalahkan musuh terkuat, tetapi tentang inspirasi yang ia sebarkan, warisan yang ia teruskan, dan bukti bahwa siapa pun, dengan hati yang berani, bisa menggapai "Plus Ultra"-nya sendiri.

Rate: 8,5+ Ultra

Komentar