Ulasan Film Christy (2025): Kisah Penerobos Batas di Tengah Ring dan Rumah Tangga yang Kelam

Sebagai seorang yang menggemari film bertema olahraga, saya selalu tertarik pada cerita-cerita tentang manusia yang melawan segala rintangan. Film Christy (2025) yang disutradarai David Michôd menarik perhatian karena janjinya untuk mengangkat kisah Christy Martin, seorang perintis sejati dalam dunia tinju perempuan yang namanya mungkin kurang dikenal luas di luar kalangan penggemar

Film ini adalah sebuah karya yang patut ditonton, dilandasi oleh kisah hidup yang luar biasa dan beberapa performa akting yang kuat, tetapi ia terjebak dalam ambiguitas: tidak cukup tajam sebagai film olahraga yang menggugah, dan tidak cukup mendalam sebagai drama psikologis tentang pelecehan.

Perjalanan Christy, yang diperankan dengan komitmen fisik yang tinggi oleh Sydney Sweeney, dimulai dari latar belakangnya yang sederhana. Film ini dengan baik menangkap semangat awal seorang perempuan dengan bakat alam yang liar, yang menemukan pelampiasan dan arti di dalam ring. Adegan-adegan pertarungan di babak awal terasa autentik; pukulan yang menghunjam, desahan napas, dan sorak-sorai penonton digarap dengan baik untuk membawa kita merasakan atmosfer keras dunia tersebut

Transformasi Sweeney dari seorang pemula menjadi juara yang dijuluki "The Coal Miner's Daughter" secara visual cukup meyakinkan. Ia berhasil menanggalkan image "bombshell"-nya dan menghadirkan sosok yang keras, gigih, namun tetap menyimpan kerapuhan seorang perempuan yang berusaha mencari penerimaan.

Namun, fokus film dengan cepat bergeser dari ring tinju ke dinamika hubungan yang beracun. Ben Foster, yang memerankan Jim Martin — suami sekaligus manajer Christy — menghadirkan performa yang begitu intens dan mengganggu. Karakternya adalah sosok yang pada awalnya tampak sebagai mentor yang tegas, namun perlahan-lahan menunjukkan sifat manipulatif, posesif, dan akhirnya sadis

Film ini paling kuat justru ketika ia berani menyelami kegelapan hubungan ini. Adegan-adegan yang menggambarkan kontrol psikologis dan eskalasi kekerasan domestik digarap tanpa sensasionalisme, memberikan rasa tidak nyaman yang seharusnya dirasakan penonton. Inilah inti kisah yang sesungguhnya: bukan tentang kemenangan di atas ring, tetapi tentang perjuangan untuk bertahan hidup dan merebut kembali kendali atas hidup sendiri dari cengkeraman seorang predator.

Di sinilah letak kekurangan utama film ini. Rasanya ada dua film berbeda yang berusaha disatukan. Di satu sisi, kita disuguhi montase kemenangan Christy yang berulang-ulang, yang justru pada titik tertentu membuat narasi sportifnya menjadi datar dan kurang bernuansa. Konflik-konflik penting dalam kariernya, seperti kekalahan dari Laila Ali, hanya disinggung sepintas, padahal momen seperti itu krusial untuk menunjukkan perkembangan karakter seorang atlet

Di sisi lain, film ingin menjadi drama gelap tentang pelecehan dan penindasan. Pergeseran tonal ini tidak selalu mulus, membuat ritme film terasa terfragmentasi. Beberapa karakter pendukung, seperti ibu Christy (Merritt Wever) yang homofobik, terasa seperti karikatur dan kurang mendapatkan porsi pengembangan yang memadai, walaupun sudah cukup membuat penonton kesal padanya.

Dari segi teknis, film ini memilih estetika yang gritty dan realis. Penggunaan palet warna yang sering suram dan syuting lokasi yang autentik mendukung suasana cerita. Namun, pilihan sinematografi dan penyutradaraan Michôd terkesan aman dan kurang berani memberikan sentuhan visi artistik yang membedakannya dari film biografi olahraga lainnya. Ia lebih banyak bermain pada wilayah yang sudah dikenal, alih-alih menciptakan bahasa visual yang baru dan segar untuk kisah yang sebenarnya unik ini.

Pada akhirnya, kekuatan Christy terletak pada pesan ketahanan hati manusia dan dua performa utama yang solid. Film ini berhasil memperkenalkan pada kita seorang figur sejarah yang tangguh, dan yang terpenting, ia tidak meromantisasi penderitaan yang dialami Christy Martin. Kisahnya tentang kebebasan dan keaslian diri, yang akhirnya ia raih setelah melewati jalan yang sangat berliku, adalah hal yang paling berkesan

Meskipun terbelah antara menjadi film olahraga yang inspirasional dan thriller psikologis yang menegangkan, dan tidak sepenuhnya mencapai potensi maksimal dari kedua genre tersebut, film ini tetap merupakan tontonan yang berarti. Ia layak disaksikan bukan sebagai film tinju terbaik, tetapi sebagai portret yang memilukan tentang seorang wanita yang harus bertarung lebih keras di luar ring daripada di dalamnya, dan pada akhirnya, berhasil menemukan jalan untuk menang.

Rate: 6,5 / 10

Komentar