Pernahkah Anda membayangkan seperti apa rasanya meninggal, lalu terbangun di sebuah stasiun besar yang ramai dengan tubuh muda kembali? Itulah premis yang ditawarkan Eternity (2025), film terbaru A24 yang mencoba meramu tema eksistensialisme tentang hidup dan mati ke dalam balutan komedi romantis yang ringan. Disutradarai oleh David Freyne, film ini terasa seperti secangkir teh hangat di sore hari—menenangkan, tapi menyisakan ruang untuk perenungan yang dalam.
Film ini membuka kisahnya dengan kematian Larry (Miles Teller) yang absurd—tersedak pretzel (semacam snack) di acara keluarga. Ketika ia sadar, ia mendapati dirinya di "The Junction", semacam ruang tunggu bagi para roh yang abstrak. Di sini, arwah memiliki waktu satu minggu untuk memilih "dunia" mana yang akan mereka huni untuk selama-lamanya. Dunia yang bisa dipilih sangat imajinatif: mulai dari pantai abadi, disko era 70-an, hingga "Republik Weimar tanpa Nazi". Di sinilah Larry dipertemukan kembali dengan istrinya, Joan (Elizabeth Olsen), yang menyusul (meninggal) beberapa hari kemudian. Kebahagiaan mereka terusik ketika muncul fakta bahwa Luke (Callum Turner), suami pertama Joan yang gugur di Perang Korea, ternyata telah setia menanti selama puluhan tahun.
Dari sinilah konflik utama yang manis namun rumit dimulai. Joan dihadapkan pada pilihan klasik antara dua cinta: Larry, pria yang bersamanya ia melewati 65 tahun suka duka membesarkan anak dan cucu, versus Luke, cinta pertama yang meninggal muda dan selamanya terpatri sebagai sosok ideal dan sempurna. Eternity jelas bukan film yang sempurna, tapi ia berhasil menonjolkan kelebihan-kelebihan yang membuatnya layak ditonton.
Kekuatan utama film ini tidak diragukan lagi terletak pada karakternya. Elizabeth Olsen membuktikan dirinya sebagai aktris komedi berbakat lewat perannya sebagai Joan. Ia bermain dengan energi yang hangat dan penuh nuansa, mampu menunjukkan kebingungan seorang nenek yang terperangkap dalam tubuh muda. Miles Teller juga tampil prima dengan gaya khasnya yang sedikit "menyebalkan" namun entah mengapa tetap membuat kita simpati. Chemistry antara Olsen dan Teller terasa natural dan autentik, persis seperti pasangan tua yang sudah saling hafal sifat buruk masing-masing. Sementara Callum Turner sebagai Luke berhasil tampil sebagai pesaing yang kredibel; ia tampan dan penuh pesona, tapi tidak sepenuhnya sempurna—ada kerapuhan di matanya yang menunjukkan betapa melelahkannya menanti selama puluhan tahun.
Yang tak kalah mencuri perhatian di film ini adalah Da'Vine Joy Randolph sebagai Anna, "Afterlife Coordinator" yang ditugaskan untuk Larry. Randolph, yang beberapa waktu lalu memenangkan Oscar, menyuntikkan humor segar dan sekaligus menjadi jangkar emosional film ini. Ia bukan sekadar figuran lucu; monolog kecilnya di akhir film secara tak terduga mampu mengharu biru.
Selain akting, aspek teknis film ini juga patut diacungi jempol. Desain produksi Zazu Myers, yang terinspirasi dari film klasik A Matter of Life and Death dan gaya The Truman Show, berhasil menciptakan estetika visual yang nyentrik. Lorong arsip kenangan Joan, yang digambarkan seperti diorama museum dengan latar belakang lukisan tangan, terasa sangat puitis dan menyentuh.
Meski sangat menyukai film ini, saya merasa Eternity sedikit terjebak di antara dua kutub. Di satu sisi, ia ingin menjadi komedi yang menghibur; di sisi lain, ia ingin menggali pertanyaan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan pilihan. Sayangnya, eksplorasi ini terasa kurang dalam. Konsep "The Junction" yang unik dan aturan-aturannya yang rumit diekspos dengan cara yang agak kaku dan kadang tidak konsisten. Kita diajak berkeliling, tapi tidak pernah benar-benar merasakan "jiwa" dari tempat tersebut.
Beberapa kritik menyebutkan bahwa pilihan Joan antara Larry dan Luke terasa terlalu mudah ditebak. Meski film berusaha membuat kedua pria tersebut seimbang, konstruksi naratifnya sedikit banyak mengarah pada satu kesimpulan yang "aman". Hal ini membuat tarikannya menjadi sedikit kurang greget. Akhirnya, meskipun film ini manis, ada rasa unsatisfying karena kompleksitas perasaan manusia direduksi menjadi pilihan biner yang sederhana.
Secara keseluruhan, Eternity adalah tontonan yang charming dan layak diapresiasi. Ini adalah bukti bahwa A24 bisa menghasilkan film yang tidak selalu gelap dan aneh, tapi tetap memiliki jiwa yang unik. Kekuatan akting para pemain, terutama Elizabeth Olsen, berhasil mengangkat materi yang mungkin biasa saja menjadi pengalaman yang mengharukan dan lucu. Film ini adalah pilihan tepat bagi Anda yang ingin menonton rom-com dengan sedikit twist filosofis tanpa harus pusing memikirkan arti kehidupan. Ia mungkin tidak akan mengubah cara Anda memandang kematian, tapi ia akan membuat Anda tersenyum dan mungkin sedikit memeluk pasangan Anda lebih erat setelah kredit akhir bergulir.
Rate: Light 8 / 10
.jpg)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar