Dalam debutnya yang berani, sutradara Kristo Immanuel membawa penonton menyelami pikiran seorang pria kesepian yang menemukan cara paling kelam untuk mendapatkan perhatian—sebuah refleksi getir tentang harga validasi di era modern.
Film Tinggal Meninggal (2025) hadir sebagai salah satu karya orisinal Indonesia yang paling berani tahun ini. Film ini berhasil menyajikan komedi gelap yang tidak hanya menghibur, tetapi juga meninggalkan rasa getir dan renungan mendalam tentang manusia modern dan rasa kesepiannya.
Cerita berpusat pada Gema (Omara Esteghlal), seorang karyawan agensi kreatif yang canggung dan hampir tak terlihat di kantornya sendiri. Hidupnya yang biasa-biasa saja berubah drastis saat ayahnya meninggal. Untuk pertama kalinya, rekan-rekan kerjanya memberikan perhatian dan simpati yang tulus. Gema, yang sepanjang hidupnya merasa diabaikan, menjadi ketagihan pada perhatian ini. Ketika masa berkabung berakhir dan kehidupan kantor kembali normal, Gema pun merancang skema gila: ia mulai memalsukan kematian orang-orang terdekatnya untuk terus mendapatkan validasi sosial yang didambakannya.
Di tangan Omara Esteghlal, karakter Gema hidup dengan intensitas yang luar biasa. Bukan sekadar sosok "caper" biasa, Gema digambarkan sebagai individu neurodivergent—seseorang dengan cara kerja otak yang berbeda, yang mengalami kesulitan dalam interaksi sosial dan cenderung hidup dalam dunianya sendiri. Latar belakang pendidikannya di bidang psikologi membantu Omara menyelami kompleksitas ini, menampilkan gestur canggung, tatapan kosong, dan dialog internal yang meyakinkan.
Yang menarik, film ini memperkenalkan Gema kecil (Jared Ali) sebagai teman bicara imajinernya, representasi inner child yang terluka karena pola asuh yang tidak ideal. Ibunya (Nirina Zubir) lebih suka disebut "kakak" dan sibuk dengan kehidupan asmaranya, sementara ayahnya memilih memulai hidup baru. Konteks inilah yang membuat tindakan nekat Gema—meski salah—menjadi bisa dipahami, bahkan mengundang empati.
Sebagai debut sutradara Kristo Immanuel, Tinggal Meninggal menunjukkan keberanian bereksperimen. Teknik breaking the fourth wall, di mana Gema secara langsung berbicara kepada penonton, digunakan bukan sebagai gimmick, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami kegelisahan karakter utama. Teknik ini menciptakan kedekatan unik antara Gema dan penonton—kita diajak mengenalnya, memahami pikirannya, dan ironisnya, kadang ingin memperingatkannya saat tindakannya mulai berbahaya.
Nuansa komedi satir dan dark jokes disajikan dengan timing yang tepat, sering kali muncul di momen-momen tegang sehingga menciptakan rasa tidak nyaman yang justru memperkuat pesan film. Adegan pembuka yang memperlihatkan Gema hampir tertabrak truk (dikendarai Yono Bakrie) dalam gerak lambat, langsung diikuti dengan ia menyapa penonton, dengan sempurna menetapkan nada absurd sekaligus personal yang akan dipertahankan sepanjang film.
Lingkungan kantor tempat Gema bekerja dihuni oleh karakter-karakter yang masing-masing mewakili tipe manusia modern: ada Ilham (Ardit Erwandha) yang ceplas-ceplos, Kerin (Mawar de Jongh) yang berusaha menjaga harmoni, Naya (Nada Novia) yang obsesif dengan popularitas media sosial, Danu (Mario Caesar) dengan cerita-cerita fantasinya, Adriana (Shindy Huang) yang tomboy, dan Bos Cokro (Muhadkly Acho) dengan leluconnya yang "jayus". Mereka bukan sekadar figuran; masing-masing memiliki keunikan yang menyumbang pada kritik sosial film tentang performativitas dan pencarian validasi di dunia kerja.
Film ini pantas masuk jajaran film terbaik Indonesia tahun ini karena beberapa alasan kuat. Pertama, keberanian tema—membahas kematian dan kesepian melalui lensa komedi gelap bukanlah pilihan mudah, namun Kristo Immanuel dan penulis skenario Jessica Tjiu melakukannya dengan cerdas. Kedua, kedalaman psikologis yang tidak biasa untuk genre komedi. Film ini tidak hanya mengolok-olok tokoh utamanya, tetapi membongkar lapisan-lapisan luka masa kecil dan kebutuhan dasar manusia untuk diperhatikan.
Ketiga, konsistensi tone absurd yang dipertahankan dari awal hingga akhir, menciptakan dunia di mana tindakan Gema yang ekstrem bisa diterima sebagai logika naratif. Keempat, performan akting solid dari seluruh pemain, terutama Omara Esteghlal yang berhasil membuat penonton simpatik sekaligus frustasi dengan karakternya. Adegan antara Gema dan versi kecilnya adalah momen-momen paling emosional yang menunjukkan akting tanpa beban Omara.
Namun, seperti kebanyakan film debut, Tinggal Meninggal memiliki beberapa kelemahan yang mencegahnya mencapai rating sempurna. Adegan klimaks yang brutal dan over-the-top, meski sesuai dengan nada film, mungkin akan terasa terlalu banyak main-main bagi sebagian penonton yang lebih menyukai pendekatan substantif.
Film ini juga diperkaya dengan detail artistik yang penuh makna. Penggunaan simbol ngengat yang muncul di beberapa adegan, misalnya, secara cerdas mencerminkan karakter Gema—makhluk yang tertarik pada cahaya (perhatian) namun seringkali terbakar olehnya. Visual dengan warna-warna cerah yang kontras dengan tema gelap cerita menciptakan ironi visual yang efektif.
Pada intinya, Tinggal Meninggal bukan sekadar komedi absurd tentang seorang pembohong. Film ini adalah kritik sosial tajam tentang budaya validasi eksternal yang semakin mendefinisikan harga diri manusia modern. Dalam dunia di mana jumlah "like" dan perhatian sering disamakan dengan keberhargaan, tindakan Gema hanyalah eskalerasi ekstrem dari kecenderungan yang banyak dimiliki orang.
Film ini mengajak kita bertanya: Seberapa jauh kita akan pergi untuk diakui? Bagaimana kesepian masa kecil membentuk cara kita mencari perhatian di usia dewasa? Dan yang paling penting, perhatian seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan—yang bersifat sementara dan berdasarkan kepura-puraan, atau yang tulus hadir meski tanpa tragedi?
Tinggal Meninggal adalah film yang layak ditonton bukan hanya saat Anda mencari hiburan ringan, tetapi ketika Anda siap untuk tertawa geli sekaligus merenung tentang isolasi manusia modern. Film ini jelas sangat berhasil menjadi debut sutradara yang impresif sekaligus tambahan berharga bagi jagat film Indonesia yang kerap bermain aman.
Film ini mengingatkan bahwa di balik setiap orang yang "bertingkah aneh" untuk mencari perhatian, mungkin ada cerita kesepian dan kesedihan yang belum tersampaikan. Dan itulah pencapaian terbesarnya: menghibur sambil menyentuh bagian tersembunyi dari pengalaman manusia yang universal.
Rate: 7,5 - 8 / 10
.png)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar