Ulasan Serial Bon Appetit, Your Majesty (2025): Resep Raja yang Setengah Matang, Tapi Bikin Ketagihan
Pernah kebayang gak, gimana rasanya jadi koki bintang tiga Michelin yang tiba-tiba terlempar ke abad ke-15? Itulah premis liar yang ditawarkan oleh Bon Appetit, Your Majesty (2025), drama yang sukses bikin pecinta kuliner dan penggemar saeguk (drama sejarah) duduk manis di sofa selama empat minggu masa penayangannya. Drama ini bukan sekadar drama Korea biasa; ia adalah pesta raya yang menyajikan perpaduan unik antara teknik memasak modern dengan bumbu intrik istana yang pekat.
Dibintangi oleh Im Yoona sebagai koki jenius Yeon Ji-young dan Lee Chae-min sebagai Raja Yi Heon yang kejam namun kesepian, serial ini mengadaptasi web novel populer Surviving as the Tyrant's Chef. Keajaiban dimulai ketika Ji-young, yang baru saja memenangkan kompetisi masak di Paris, secara misterius tertelan waktu dan mendarat di tengah hiruk-pikuk politik kerajaan Joseon. Dunianya yang penuh dengan sous-vide dan macaron langsung berbenturan dengan dapur kerajaan yang kaku. Di sinilah daya tarik utamanya berada: melihat seorang koki modern berimprovisasi dengan peralatan seadanya sambil menghadapi ancaman hukuman mati jika raja tidak menyukai masakannya.
Apa yang membuat serial ini layak mendapatkan pujian tinggi adalah eksekusi visualnya. Sutradara Jang Tae-yoo, yang sebelumnya sukses dengan The Legend of the Blue Sea dan My Love from the Star, kembali menunjukkan taringnya. Setiap adegan memasak digarap dengan sinematografi yang mampu membangkitkan indra perasa penonton. Kolaborasi dengan tim food styling dari Culinary Class Wars jelas terasa hasilnya.
Di luar urusan makanan, interaksi antara Ji-young dan Yi Heon adalah chef's kiss. Chemistry mereka berkembang secara alami—dari hubungan koki-pelanggan yang penuh curiga menjadi kemitraan yang hangat dan saling melindungi. Im Yoona berhasil membuktikan dirinya bukan hanya idol visual, tetapi aktris yang menguasai physical comedy sekaligus dramatik. Sementara Lee Chae-min, yang baru bergabung setelah kontroversi casting sebelumnya, tampil meyakinkan sebagai raja dengan luka batin yang kompleks.
Namun, saya harus jujur bahwa ada beberapa bumbu yang kurang pas di resep ini. Masalah terbesar serial ini terletak pada ritmenya yang tidak konsisten. Selain itu, ekspektasi terhadap genre romantis mungkin harus sedikit dikelola. Banyak penonton, termasuk saya, merasa bahwa chemistry antara Ji-young dan Yi Heon lebih terasa seperti persahabatan yang manis daripada api asmara yang membara. Ada kalanya hubungan mereka berkembang secara instan tanpa momen "jatuh cinta" yang benar-benar kuat secara emosional.
Kritik terbesar, yang juga banyak disuarakan di komunitas penggemar, adalah akhir ceritanya yang terasa terburu-buru, dan jujur saja, halu. Sepanjang 10 episode, kita dibangun dengan berbagai misteri dan konflik politik yang rumit. Sayangnya, begitu masuk ke episode 11 cerita mulai kedodoran, dan episode pamungkas (episode 12) seperti mencoba memasak nasi goreng dengan api terlalu besar—cepat matang, tapi banyak bagian yang masih keras.
Beberapa plot, terutama yang berkaitan dengan nasib tokoh antagonis seperti Selir Kang dan Pangeran Agung, ditutup dengan cara yang kurang memuaskan. Bahkan di menit-menit akhir, ketika kita berharap melihat kilasan kehidupan bahagia kedua tokoh utama, kita malah disuguhi ketidakjelasan yang terkesan menggantung. Rasanya seperti menonton pertunjukan sulap yang hebat, tapi trik terakhirnya gagal total. Jika saja dua episode tambahan dialokasikan untuk merapikan akhir cerita, drama ini bisa dengan mudah mencetak skor sangat tinggi.
Meski begitu, Bon Appetit, Your Majesty tetap layak disantap. Kelebihannya jauh lebih banyak dibanding kekurangannya. Drama ini berhasil merebut hati pemirsa global, terbukti dengan ratingnya yang menembus 17,1% di Korea dan popularitasnya di Netflix dengan 7,5 juta views dalam sepekan. Keberhasilannya membuktikan bahwa formula "fusion" antara sejarah dan modern masih sangat efektif jika diolah dengan bahan berkualitas. Para pemeran pendukung, seperti koki kerajaan yang kocak dan para pejabat istana yang licik, memberikan "rasa umami" yang membuat cerita semakin kaya.
Serial ini adalah paket lengkap untuk hiburan akhir pekan. Ia adalah hidangan pembuka yang menggugah selera, hidangan utama yang mengenyangkan, tetapi pencuci mulutnya yang sedikit mengecewakan. Saya sangat merekomendasikan serial ini bagi siapa pun yang mencari tontonan ringan dengan produksi mewah, akting memukau, dan eksplorasi kuliner yang belum pernah ada sebelumnya di drama sejarah. Selamat menonton, dan jangan lupa siapkan camilan sebelum memulai episode pertamanya!
Rate:
Before Ending: 8,5 / 10
After Ending: 7,5 / 10
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar