Ulasan Film Lupa Daratan (2025): Ketika Sorotan Lampu Membuat Kita Lupa Siapa Kita Sebenarnya

Ada sesuatu yang menarik dari gagasan sebuah film tentang seorang aktor yang tiba-tiba lupa cara berakting. Premis itu terasa absurd, bahkan sedikit jahil — tapi di tangan Ernest Prakasa, keabsurdan itu justru menjadi pintu masuk ke sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar komedi situasi. Ide awal film ini berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana jika seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan yang paling ia andalkan? Dari sana, muncul cerita tentang hubungan saudara, loyalitas, dan batas antara percaya diri dan sombong.

Lupa Daratan (atau Lost in the Spotlight dalam rilis internasionalnya) adalah film komedi drama Indonesia tahun 2025 yang disutradarai dan ditulis oleh Ernest Prakasa, dibintangi Vino G. Bastian, Dea Panendra, dan Agus Kuncoro, dengan alur cerita yang berfokus pada seorang aktor sukses bernama Vino Agustian yang tiba-tiba kehilangan kemampuan aktingnya saat sedang berada di puncak karirnya. Film ini tayang perdana di Indonesia pada 11 Desember 2025 secara eksklusif di Netflix, dengan durasi 115 menit, mengusung genre drama komedi satir yang mengupas sisi gelap industri hiburan.

Usai menyabet macam-macam penghargaan, Vino dikenal sebagai sosok egosentris dan sombong. Dia sangat membanggakan kemampuan aktingnya sampai melupakan orang-orang yang menemaninya dari masa sulit. Kesombongan itulah yang menjadi pemantik segalanya — dan ketika kemampuan aktingnya mendadak lenyap tanpa alasan logis, film ini mulai bernapas dengan ritme yang sesungguhnya.

Yang paling memukau dari Lupa Daratan, bagi saya, bukan bagian komedinya — meski itu memang efektif — melainkan lapisan dramanya. Aspek sejati Lupa Daratan adalah drama keluarga, khususnya kisah dua saudara yang sempat terpisah karena perbedaan cara memandang dunia hiburan, lalu dipaksa bertemu kembali. Di sinilah film ini paling hidup. Lewat dinamisasi Vino dan Ikhsan, yang menampilkan love-hate relationship khas kakak-adik, pesan dan makna dari "lupa daratan" justru bisa lebih tersampaikan dibanding premis seorang aktor tampil jemawa seperti yang ada di awal film.

Namun film ini juga menyimpan ambisi yang sedikit terlalu besar untuk durasi yang dimilikinya. Lupa Daratan tampak berambisi mengangkat pokok pembicaraan sebanyak mungkin, di saat problematika yang Ernest paling ingin bahas adalah perihal keluarga. Beberapa sub-plot hadir seperti tamu yang singgah sebentar lalu pergi tanpa kesan — tidak cukup dalam untuk dirasakan, tapi cukup lama untuk sedikit mengusik alur utama. 

Beberapa sub-plot justru terasa hadir hanya sebagai pengisi durasi, bukan kebutuhan dramatik: seperti pertemuan Vino dengan penggemar yang sakit di perkampungan, atau sub-plot pembelian rumah yang penyelesaiannya sudah bisa ditebak sejak awal. Ini bukan masalah fatal, tapi cukup untuk membuat saya sesekali merasakan jarak antara potensi dan hasil akhirnya.

Di sisi lain, film ini memiliki keberanian yang patut diapresiasi. Ada banyak kritik sosial yang dimasukkan ke dalam plot — keseluruhan sindirannya berpusat pada cerita kelam dunia hiburan Tanah Air, mulai dari jadwal syuting hingga tengah malam, siaran televisi penuh gimmick, permainan "koneksi", hingga media sosial penuh haters dan berita-berita hoaks. Sindiran itu tidak terasa dipaksakan — justru mengalir natural dalam komedi yang renyah.

Dari sisi teknis, Lupa Daratan tampil dengan cukup meyakinkan untuk sebuah produksi streaming. Pada ranah visual dan sinematografi, film ini terasa cukup menyenangkan. Tone warna dan konsep lighting yang digarap Ernest bersama sinematografernya, Bella Panggabean, tampil soft, rapi, dan enak dipandang. Pengambilan gambar yang dinamis menangkap esensi Jakarta metropolitan — dari studio mewah hingga lorong-lorong kumuh — sebagai metafor "lupa daratan" Vino.

Musik latar tidak mencuri perhatian secara berlebihan. Soundtrack orisinal, campuran pop ringan dan lagu-lagu indie, mendukung mood tanpa mendominasi. Editing-nya pun secara keseluruhan terjaga, meski beberapa transisi flashback terasa agak membingungkan timeline.

Kalau ada satu hal yang benar-benar tak bisa saya perdebatkan dari Lupa Daratan, itu adalah performa para pemerannya. Vino G. Bastian, yang biasa dikenal dengan peran serius, kali ini bertransformasi total menjadi karakter lebay dan narsis yang relatable. Ekspresinya yang over-the-top berhasil mencuri perhatian, namun ia tak hanya lucu — ia juga menyampaikan kedalaman emosional saat karakternya runtuh, sebuah bukti fleksibilitas Vino sebagai aktor.

Tapi bagi saya, justru Agus Kuncoro lah yang menjadi kartu truf film ini. Cerita kacang yang lupa kulitnya tapi kemudian ingat itu ditampilkan terasa natural berkat chemistry yang terjalin antara Vino G. Bastian dan Agus Kuncoro. Rentang usia sepuluh tahun di antara keduanya memang terasa seperti abang dan adik — dan Agus Kuncoro lah yang sukses membawakan sisi emosional film ini.

Dea Panendra sebagai pasangan Vino membawa nuansa segar, meski perannya lebih sebagai katalisator daripada bintang utama. Sementara deretan aktor top tier seperti Arswendy Bening Swara, Lukman Sardi, Morgan Oey, hingga Sheila Dara turut meramaikan layar, belum lagi kehadiran lebih dari selusin komika. Mereka semua memberikan tekstur — tapi sekadar tekstur, bukan fondasi tambahan.

Lupa Daratan adalah film yang menyenangkan, jujur, dan pada momen-momen terbaiknya, sungguh menyentuh. Film ini membawa kritik dan pesan sosial yang cukup relevan dengan semangat masa kini, di mana hampir setiap aspek kehidupan tak lepas dari jalur "viral" dan media sosial seolah menjelma menjadi "agama" baru. Pesan itu tersampaikan dengan elegan — tidak menggurui, tidak terlalu keras.

Namun film ini juga belum sepenuhnya mencapai ketinggian yang sebenarnya ia mampu. Ada potensi besar yang tersisa di meja. Beberapa sub-plot yang tidak tuntas, humor yang kadang memotong momentum dramatis di saat yang kurang tepat, dan durasi yang sedikit menguras energi di babak akhir — semua itu membuat Lupa Daratan berdiri di zona "sangat bagus, tapi belum luar biasa."

Lupa Daratan bukan hanya komedi tentang dunia film. Ini adalah pengingat bahwa siapa pun bisa tersandung kesuksesan — bukan karena gagal, tetapi karena terlalu sibuk melihat ke atas sampai lupa melihat orang yang berdiri di sampingnya. Ini adalah film yang layak ditonton, layak dirasakan, dan layak untuk sesekali membuat kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita, di tengah semua pencapaian, masih ingat siapa yang dulu menemani kita berdiri?

Rate: 7 - 7,5 / 10

Komentar