Ada semacam kelelahan yang anehnya terasa nyaman saat menonton Mardaani 3. Bukan kelelahan karena bosan—film ini terlalu sibuk bergerak untuk itu—melainkan kelelahan karena tahu persis ke mana arahnya. Dan di situlah letak dilema saya memberikan penilaian untuk sekuel ketiga dari franchise yang dibangun Rani Mukerji ini. Film ini punya hati, punya nyali, dan punya bintang yang bersinar terang. Tapi ia juga membawa beban warisan yang perlahan-lahan menjadi baju yang terlalu ketat.
Shivani Shivaji Roy kembali. Dan seperti biasa, ia tidak datang dengan lambaian tangan atau senyum manis. Ia masuk dengan tinju, tendangan, dan tatapan yang sudah hafal betul dengan kebusukan yang dihadapinya. Kali ini, kasusnya dimulai dari penculikan dua gadis kecil—satu putri duta besar Sri Lanka, satu lagi putri pengasuhnya. Sebuah pengingat pahit bahwa nyawa memiliki harga yang berbeda di mata sistem. Polisi bergerak cepat hanya karena satu anak berasal dari keluarga berpengaruh, sementara puluhan anak lain dari keluarga miskin lenyap tanpa pernah dihitung.
Dari sini, Mardaani 3 membangun premis yang kuat. Anak-anak perempuan di bawah usia pubertas diculik, dijadikan bagian dari jaringan pengemis yang dikendalikan oleh Amma (Mallika Prasad), seorang antagonis wanita yang dingin dan penuh perhitungan. Ada lapisan di balik lapisan—perdagangan manusia, uji coba obat-obatan ilegal, hingga organ tubuh—dan semua ini dihadirkan dengan nada yang tidak pernah berpaling dari kekejaman realitasnya.
Masalahnya? Film ini terlalu sibuk memberi tahu kita betapa mengerikannya semua ini, daripada menunjukkan dengan cara yang membuat kita merasakannya. Mardaani 3 memperlakukan isu berat ini dengan kedalaman intelektual seperti presentasi PowerPoint. Kritiknya tentang sistem dan patriarki beroperasi di permukaan, tidak pernah cukup dalam untuk benar-benar mengganggu.
Secara teknis, Mardaani 3 adalah film yang solid. Skor latar dan sinematografinya mampu menjaga keterlibatan penonton, bahkan ketika narasi mulai tersandung di paruh kedua. Pengambilan gambar kamera terasa observasional, menuntun kita melewati ruang-ruang terlantar di mana perdagangan anak berkembang karena tidak ada yang mau melihat.
Tapi di sinilah saya mulai merasa kehilangan. Penyuntingan yang terasa kehilangan cengkeraman di babak kedua, dipadukan dengan terlalu banyak tikungan alur yang dilemparkan hampir setiap 15 menit. Satu atau dua kejutan mungkin cukup. Tapi yang terjadi adalah kekacauan yang justru mengurangi ketegangan yang sudah dibangun dengan susah payah di awal.
Sutradara Abhiraj Minawala menunjukkan kilasan janji di setengah jam pertama, sebelum semuanya perlahan kehilangan arah di kuarter akhir. Ini seperti menonton seseorang yang berlari kencang di lima kilometer pertama, lalu tersendat di kilometer kedelapan, dan nyaris merangkak di garis finish.
Rani Mukerji adalah alasan utama mengapa film ini masih layak. Ia kembali sebagai Shivani dengan kepercayaan diri yang terasa hidup, bukan sekadar dimainkan. Tidak ada re-invensi dramatis di sini, dan justru di situlah kekuatannya. Shivani telah menua, menjadi lebih tajam, dan belajar menghemat energinya. Performanya terinternalisasi, terkendali, dan sangat meyakinkan. Ketika ia meledak, itu terasa pantas. Ini bukan penampilan yang meminta tepuk tangan, tapi diam-diam layak mendapatkannya.
Rani membuktikan bahwa di antara semua polisi wanita di sinema Hindi, Shivani Roy berdiri di puncak. Ia tidak perlu gaya atau swagger ala polisi laki-laki—ia cukup bertahan, cukup hadir, cukup melakukan apa yang harus dilakukan.
Mallika Prasad sebagai Amma juga layak diapresiasi. Di awal film, ia terasa benar-benar berbahaya—tatapan mata berkaligrafi dan sikapnya yang dingin menciptakan rasa takut yang nyata. Tapi seiring film berjalan, dampaknya melemah. Ia menjadi korban dari penulisan yang terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit ruang untuk keheningan yang mencekam. Karakter antagonis yang dibangun sebagai produk dari sistem yang membusuk kehilangan ketajamannya ketika film terus-menerus menjelaskan, bukan membiarkan kita merasakan.
Prajesh Kashyap sebagai Ramanujan dan Janki Bodiwala sebagai polisi Fatima memberikan dukungan yang kompeten, meskipun Bodiwala terasa kurang dimanfaatkan dalam peran yang setengah matang.
Mardaani 3 adalah film yang ingin sekali bermakna. Dan dalam banyak hal, ia berhasil. Isu yang diangkat relevan dan penting. Ketidakadilan sistemik yang digambarkan terasa nyata dan menyakitkan. Ada momen-momen di mana film ini benar-benar menusuk—terutama ketika mengingatkan kita bahwa "tidak ada yang merindukan gadis-gadis yang hilang" dari keluarga miskin.
Tapi maksud baik tidak selalu cukup. Eksekusi adalah segalanya, dan di sinilah Mardaani 3 kehilangan poin. Film ini terkadang terlalu keras memaksakan pesannya, seolah tidak percaya bahwa penonton bisa memahami tanpa dijelaskan berulang kali. Penggunaan musik latar yang terasa dipaksakan, alih-alih memperdalam emosi, justru mengganggu. Keheningan, dalam beberapa adegan, akan membawa kekuatan yang jauh lebih besar.
Yang membuat saya sedikit kecewa adalah bagaimana film ini, dengan semua intensitasnya, gagal memberikan momen penutup yang benar-benar mengguncang. Mardaani dan Mardaani 2 memiliki antagonis yang sulit dilupakan—Tahir Raj Bhasin dan Vishal Jethwa meninggalkan jejak yang dalam. Di sini, klimaksnya terasa seperti rutinitas, mengurangi ketegangan dan menghasilkan pengalaman yang tidak merata.
Mardaani 3 adalah film yang berada di persimpangan. Ia bukan kegagalan—jauh dari itu. Ia memiliki momen-momen cemerlang, performa utama yang kuat, dan keberanian untuk menghadapi topik yang tidak nyaman. Tapi ia juga bukan puncak dari apa yang franchise ini tawarkan. Ia adalah sekuel yang jujur dalam niatnya, tetapi goyah dalam eksekusinya.
Saya menonton Mardaani 3 dengan harapan yang tinggi—mungkin terlalu tinggi. Dan ketika film selesai, yang saya rasakan bukanlah kekecewaan, melainkan semacam kesedihan yang tenang. Kesedihan karena tahu bahwa warisan yang dibangun dengan begitu kokoh oleh dua film pertama kini mulai menunjukkan retakan. Bukan retakan yang menghancurkan, tapi retakan yang membuat kita bertanya: mampukah franchise ini bertahan?
Rani Mukerji layak mendapatkan lebih dari sekadar "cukup". Dan sayangnya, Mardaani 3, untuk semua keberanian dan ketulusannya, hanya mampu memberikan "cukup"—tidak lebih, tidak kurang.
Rate: 6,5 / 10
c.webp)
b.webp)
Komentar
Posting Komentar