Ulasan Film Michael (2026): Kisah Raja Pop yang Dihidupkan Kembali di Atas Panggung, Namun Kehilangan Jiwanya di Balik Layar
Dalam Michael (2026), Antoine Fuqua membawa kita ke Gary, Indiana, 1966, ke rumah sederhana yang bergetar oleh ambisi dan ketakutan. Dari panggung kecil Jackson 5 hingga gemerlap Wembley Stadium 1988, kita dibawa menyusuri lorong waktu yang penuh musik, tekanan, dan cahaya. Namun di balik semua kemegahan itu, ada sesuatu yang mengganjal. Saya merasa baru menyaksikan separuh, atau bahkan seperempat, dari kisah yang jauh lebih kompleks dan seharusnya megah di saat bersamaan.
Film ini dibuka dengan kehidupan keluarga Jackson yang keras (yang sayangnya saya gagal merasakannya). Joe Jackson, diperankan dengan intensitas mengerikan oleh Colman Domingo, membentuk kelima putranya menjadi mesin hiburan yang tak kenal lelah. Di tengah tekanan itu, Michael kecil—diperankan dengan menyentuh oleh Juliano Krue Valdi—menonjol bukan hanya karena suaranya, tetapi karena matanya yang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar tepuk tangan. Kita menyaksikan transisi dari Jackson 5 ke karier solo Michael, didorong oleh hasrat untuk keluar dari bayang-bayang sang ayah. Narasi ini mengalir, tapi terburu-buru, juga tanpa keberanian untuk menyentuh luka-luka yang sebenarnya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok Michael Jackson.
Saya menghargai keputusan untuk fokus pada kebangkitan artistiknya. Adegan demi adegan pertunjukan menjadi jantung film ini, dan di sinilah Michael benar-benar bersinar. Namun, ketika film berakhir, saya merasa seperti baru membaca bab pertama dari biografi yang jauh lebih tebal. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh gemerlap panggung, sebuah pertanyaan yang menggantung: di manakah manusia di balik ikon itu?
Dion Beebe, sinematografer peraih Oscar, melakukan pekerjaan luar biasa dalam menciptakan bahasa visual yang tumbuh seiring perkembangan Michael. Film ini dimulai dengan tekstur grainier yang hangat, seolah kita sedang menonton rekaman arsip keluarga, lalu perlahan berubah menjadi sinematografi yang lebih dinamis dan berani saat Michael memasuki era Thriller dan Bad. Penggunaan lensa zoom Angénieux Optimo Ultra 12x memungkinkan transisi mulus dari bidikan lebar yang menangkap skala stadion ke close-up intim yang menangkap keringat di pelipis Michael.
Adegan konser adalah mahakarya tersendiri. Fuqua, yang memulai karier dari video musik, tahu betul bagaimana menangkap gerakan kaki yang meluncur di lantai, bagaimana cahaya memantul dari sarung tangan berkilau itu. Editing yang cepat dan koreografi kamera yang presisi membuat penonton merasa berada di barisan terdepan. Sayangnya, keindahan visual ini terkadang menutupi kedangkalan naratif. Film ini terasa seperti konser yang dibungkus dalam balutan biopik, bukan biopik yang di dalamnya ada konser.
Jika ada satu aspek yang tidak bisa saya keluhkan, itu adalah musiknya. John Warhurst, yang sebelumnya mengerjakan Bohemian Rhapsody, melakukan sihir dengan memadukan vokal Jaafar Jackson dan Juliano Valdi dengan rekaman asli Michael Jackson. Hasilnya hampir surealis: kita mendengar suara Michael, tetapi kita melihat wajah keponakannya. Dalam adegan studio rekaman, suara Jaafar mendominasi; dalam adegan pertunjukan langsung, vokal asli Michael mengambil alih, menciptakan ilusi bahwa kita benar-benar menyaksikan sang legenda hidup kembali.
Lagu-lagu seperti “Beat It,” “Billie Jean,” dan “Wanna Be Startin’ Somethin’” tidak sekadar diputar—mereka dihidupkan kembali dengan energi yang membuat bulu kuduk berdiri. Mixing audio oleh Humberto Gatica dan Paul Massey menghasilkan suara yang jernih, dengan drum live yang memberikan kekuatan baru pada lagu-lagu klasik. Ini adalah pencapaian teknis yang layak mendapat standing ovation.
Tidak bisa dipungkiri, penampilan Jaafar Jackson adalah alasan utama film ini tetap layak ditonton. Sebagai keponakan Michael, ia memiliki kemiripan fisik yang menakutkan, tetapi lebih dari itu, ia menangkap esensi gerakan dan ekspresi sang legenda. Ada momen-momen di mana saya benar-benar lupa bahwa saya sedang menonton aktor, bukan Michael Jackson sendiri. Colman Domingo sebagai Joe Jackson memberikan dimensi yang mengerikan pada sosok ayah yang ambisius, sementara Nia Long sebagai Katherine Jackson menghadirkan kehangatan yang menjadi jangkar emosional di tengah kekacauan.
Namun, bahkan penampilan kuat ini tidak bisa menyelamatkan film dari masalah fundamentalnya: naskah John Logan terlalu berhati-hati, dan sebenarnya agak dangkal. Karakter-karakter pendukung muncul dan menghilang tanpa meninggalkan kesan mendalam. Kita tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kepala Michael, tidak pernah merasakan kesepian yang ia rasakan di tengah kerumunan penggemar. Film ini menunjukkan kepada kita apa yang dilakukan Michael, tetapi jarang mengizinkan kita merasakan apa yang ia rasakan. Kita bahkan tidak diberitahu bagaimana perasaan kakak-kakak Michael ketika Jackson 5 'dipaksa' bubar oleh Michael sendiri.
Saya memberikan rating ini bukan karena film ini buruk—jauh dari itu. Michael adalah pengalaman sinematik yang memukau, sebuah perayaan musik yang akan membuat penggemar berat Michael Jackson tersenyum sepanjang durasinya. Namun, sebagai sebuah biopik, film ini terasa tidak lengkap. Ada jurang antara respons kritikus dan penonton, dan saya berada di tengah-tengahnya. Saya mengerti mengapa penonton mencintainya, tetapi saya juga mengerti mengapa kritikus kecewa.
Film ini memilih untuk merayakan daripada menginterogasi. Ia menunjukkan kebangkitan, tetapi menghindari kejatuhan. Ia menyajikan mitos, bukan manusia seutuhnya. Keputusan untuk mengakhiri cerita sebelum badai kontroversi melanda adalah keputusan yang aman secara komersial, tetapi melemahkan dampak emosionalnya. Seperti sebuah pertunjukan yang gemilang, film ini mendewakan subjeknya tanpa konsekuensi dramatis yang menyertainya.
Di titik ini, saya sampai pada kesimpulan yang melegakan dan sekaligus mengganggu: film ini tidak cukup besar untuk dapat menggambarkan kebesaran seorang Michael Jackson. Memecahnya menjadi lebih dari satu film, seperti yang disebutkan di akhir bahwa kisah ini kemungkinan masih akan berlanjut, dengan bagian pertama yang saya beri nilai tidak istimewa, membuat saya meragukan babak lanjutannya. Saya bisa salah, tentu saja. Semoga saya salah.
Rate: 6,5 - 7 / 10
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar