Ulasan Film Eye for an Eye 2 (2024): Sinematografi Indah dan Aksi Brutal

Menyusul kesuksesan besar dari film pendek wuxia daring "Eye for an Eye: The Blind Swordsman" (2023) yang dibintangi oleh Xie Miao, sutradara dan penulis Yang Bing Jia kembali dengan sekuel yang ditunggu-tunggu, "Eye for an Eye 2". Meskipun dijadwalkan untuk rilis di bioskop, film ini akhirnya diputar di platform streaming iQIYI. Dengan latar belakang Dinasti Tang, film ini menghadirkan kisah yang penuh aksi dan emosi.

Kisah "Eye for an Eye 2" dimulai di kota Youzhou pada masa Dinasti Tang. Cheng Xia Zi, seorang pendekar buta, datang untuk menangkap lima buronan yang bersembunyi di sebuah rumah judi. Dalam pertarungan yang sengit, Cheng berhasil mengalahkan mereka dengan keterampilan yang mematikan. Cheng, yang memiliki keinginan untuk pensiun di kota asalnya, Chang An, sedang berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin.

Di sisi lain kota, dua anak yatim piatu, Zhang Xiao Yu dan adik laki-lakinya Xiao Cao, mencuri makanan untuk bertahan hidup. Mereka terjebak dalam konfrontasi antara perwira kejam Li Jiu Lang dan para pemberontaknya. Li membunuh para pemberontak tanpa ampun, tetapi Zhang berhasil melarikan diri sementara adiknya tidak seberuntung itu. Dalam pelariannya, Zhang bertemu dengan Cheng yang, meskipun awalnya enggan, akhirnya menampungnya. Mereka mulai membentuk ikatan yang kuat dan bekerja sama untuk menjatuhkan Li dan kekuasaannya yang kejam.

Diperankan oleh Xie Miao, Cheng Xia Zi adalah karakter yang kompleks dan mendalam. Sebagai seorang pemburu bayaran buta, Cheng menunjukkan kemampuan bertarung yang luar biasa. Gerakannya yang halus dan penuh perhitungan menambah daya tariknya sebagai protagonis. Motivasi Cheng untuk mengumpulkan uang demi masa pensiun memberikan dimensi manusiawi pada karakternya yang tangguh.

Yang En You memerankan Zhang Xiao Yu, seorang anak yatim piatu yang trauma dan terobsesi dengan balas dendam setelah kematian tragis adiknya. Ikatan yang berkembang antara Zhang dan Cheng menjadi pusat emosional film ini. Meskipun dipenuhi dengan rasa sakit dan kehilangan, hubungan mereka berkembang menjadi kemitraan yang kuat dan penuh kepercayaan.

Secara visual, "Eye for an Eye 2" menawarkan pemandangan yang memukau dengan latar belakang perbukitan, hutan, dan pegunungan yang indah. Kota yang rinci serta interior bangunan yang autentik memberikan kesan yang hidup dan nyata. Penggunaan layar terbagi oleh Yang Bing Jia selama momen-momen ringan dalam film ini menambahkan kesegaran visual.

Koreografi aksi yang dirancang oleh Qin Peng Fei dan Du Xiao Hui menampilkan adegan pertarungan yang cepat dan tajam. Meskipun brutal, adegan-adegan ini sangat mengesankan. Salah satu adegan menarik adalah pertarungan dengan preman yang menggunakan pedang berapi. Pertarungan epik antara Cheng dan tiga ratus penjaga di akhir film terasa agak berlebihan dan sedikit terburu-buru.

Sebagai aktor dan juara seni bela diri, Xie Miao bukanlah nama baru dalam film aksi Asia. Karir filmnya yang dimulai sebagai aktor cilik di samping Jet Li dalam "The New Legend of Shaolin" (1994) dan "My Father is a Hero" (1995) membawanya dikenal luas. Penampilannya sebagai Cheng Xia Zi dalam "Eye for an Eye 2" sangat mengesankan dengan gerakan yang halus dan meyakinkan selama adegan pertarungan.

Penampilan Yang En You sebagai Zhang Xiao Yu adalah sorotan tersendiri. Sebagai bintang cilik, Yang menunjukkan kemampuan akting yang luar biasa dalam menangani momen emosional dan dramatis. Interaksi yang penuh canda dan pertengkaran kecil dengan Cheng menambahkan lapisan emosi yang diperlukan dalam film ini, sekaligus menjadi selingan yang menyenangkan dari adegan kekerasan.

Hung Tao memainkan peran sebagai Li Jiu Lang, perwira kejam yang menjadi musuh utama dalam film ini. Penampilannya yang jahat dan mengesankan membuat karakternya mudah diingat dan menambah intensitas dalam cerita.

Meskipun plot "Eye for an Eye 2" dapat ditebak dan terasa familiar, film ini tetap menjadi produksi yang mengesankan dan memuaskan. Karakter utama yang ditulis dengan baik, ditambah dengan aksi koreografi yang ciamik dan visual yang menarik, menjadikan sekuel ini seimbang dan layak untuk dinikmati.

Rate: 7.5+/10

Komentar