Ulasan Film Dune: Part Two (2024) - Perjalanan Mesianik dan Pertempuran Epik

Ketika kita menyaksikan karya Denis Villeneuve, Dune: Bagian Dua, kita disuguhkan dengan sekuel epik yang tidak hanya melanjutkan cerita sebelumnya, tetapi juga mendalaminya dengan penuh makna dan spektakuler. Villeneuve tidak hanya memperluas alam semesta yang dibangun dari prosa Herbert, tetapi juga menghadirkan romansa yang menjelma menjadi epik sebesar alkitab, tragedi Shakespearean tentang kekuasaan dan korupsi, dan babak kedua yang visualnya begitu memesona sehingga membuat pendahulunya terlihat seperti percobaan semata.

Kita kembali ke padang pasir Arrakis, di mana Paul Atreides dan kohort Fremen-nya memimpin serangan melawan pasukan Harkonnen. Paul, yang mulai menyesuaikan diri dengan budaya tuan rumahnya, tetaplah seorang asing di antara mereka. Namun, di sisi Chani, kita bisa merasakan ikatan di antara mereka yang semakin kuat. Lady Jessica, sedang dalam perjalanan untuk menjadi petinggi priestess Bene Gesserit, juga tengah mengandung adik perempuan Paul, yang bahkan dalam kandungan sudah bisa berkomunikasi telepati dengan ibunya. Stilgar, pemimpin Fremen, mulai melihat Paul sebagai sosok yang mungkin menjadi sosok yang mereka nantikan, sang Mesias.

Villeneuve sekali lagi membuktikan bahwa dia mengerti bagaimana fiksi ilmiah harus menggabungkan yang akrab dengan yang asing, dengan sentuhan-sentuhan aneh yang menunjukkan galaksi jauh di sana, sambil tetap mengakar drama manusia dengan gravitas dan memadukannya dengan adrenalin. Dia juga mahir dalam mengkomposisi adegan untuk layar besar, mengisi setiap adegan besar dengan catatan yang tak terduga di tengah suara dan gemuruh. Ketika kita terpukau melihat Paul dan Chani menghadapi kapal-kapal penyerang dengan peluncur roket sembari bersembunyi di balik kaki-kaki mesin panen, kita merasa seolah-olah di tangan seseorang yang mengerti bagaimana mengatur aksi. Dan ketika kita terpesona saat para pejuang kebebasan berlari horizontal sementara kapal yang meledak jatuh di belakang mereka secara vertikal dengan timing yang sempurna, kita sadar bahwa kita sedang menyaksikan karya seorang sineas sejati.

Di bagian kedua ini, kita melihat Paul Atreides tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, dari seorang anak menjadi seorang pria, yang akhirnya menerima perannya sebagai pahlawan yang tidak begitu enggan. Chalamet berhasil membawa peran ini dengan begitu baik, menggambarkan ketakutan Paul akan kekuasaan, keraguannya untuk mengambil peran sebagai Muad’Dib, dan perlahan-lahan kehilangan kompas moralnya. Kehadiran Zendaya juga semakin mencolok, menjadi pasangan yang sepadan dengan Paul dalam menghadapi musuh dan memikat perhatian penonton.

Namun, tidak lengkap rasanya tanpa mengomentari penampilan Austin Butler sebagai Feyd Rautha yang benar-benar psikotik. Dalam adegan gladiator monokromatis yang mengingatkan pada patung marmer yang hidup, Butler berhasil menghadirkan karakter ini dengan begitu menakutkan dan mengerikan, yang membuatnya jauh dari versi sebelumnya. Villeneuve dengan cerdik memfilmkan adegan-adegan ini, memberikan kedalaman dan intensitas yang sangat dibutuhkan dalam konflik antara karakter-karakter utama yang masih bertahan.

Dengan Dune: Part Two, kita tidak hanya diberikan sekuel, tetapi sebuah jalinan kisah yang semakin memuncak. Kita tinggalkan film ini dengan rasa puas namun juga dengan antisipasi akan bagian ketiga yang mungkin datang. Villeneuve dan para aktor berhasil memberikan kita pengalaman fiksi ilmiah yang lebih besar, lebih berani, dan lebih baik dari sebelumnya. Mereka meninggalkan kita dengan rasa bahagia yang didapat dari sekuel yang tampil luar biasa, dan harapan akan kelanjutan perjalanan epik ini di masa depan.

Dengan begitu, Dune: Bagian Dua tidak hanya memenuhi harapan penggemar, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai salah satu karya paling monumental dalam genre ini. Villeneuve telah melampaui ekspektasi, menghadirkan potret yang mendalam dan visual yang memikat, sehingga menjadikan Dune: Bagian Dua sebuah karya seni yang patut disanjung dalam sinema fiksi ilmiah modern.

Rate: 8.5+/10

Komentar