Pengalaman menonton Ghostbusters: Frozen Empire menimbulkan rasa bimbang yang mendalam, sebuah karya yang berusaha meneruskan jejak legenda namun terjebak dalam labirin ambisi yang tidak terpenuhi.
Film ini, meskipun berusaha keras, tidak mampu mengimbangi pesonanya dengan kesatuan yang memadai. Ivan Reitman, yang dihormati dalam film ini, telah menciptakan fondasi yang kokoh empat dekade lalu, namun upaya sekuel ini tampaknya berantakan dan tidak teratur. Humor yang digarap dengan serius sering kali terpecah belah oleh jalan cerita yang samar dan karakter yang kurang terdefinisi.
Kumail Nanjiani, meskipun hanya memiliki peran kecil, mampu mencuri perhatian sebagai bintang komedi utama. Namun, kehadirannya yang menghibur hanya sebagian mampu mengimbangi kekacauan plot yang tidak terkoordinasi dengan baik. Sementara itu, karakter-karakter baru seperti Celeste O’Connor dan Logan Kim terasa diikutkan tanpa terlalu banyak kontribusi yang substansial, meninggalkan penonton dengan rasa penasaran yang tak terpuaskan.
Secara visual, film ini menampilkan New York City dengan latar yang tidak terlalu mencolok, mencoba mempertahankan estetika dari sekuel sebelumnya. Namun, penyutradaraan Gil Kenan tidak mampu memberikan sentuhan khas yang membedakan dari film-film blockbuster lainnya. Di bawah penulis skenario Jason Reitman, cerita ini berusaha keras untuk menangkap nuansa franchise yang diinginkan namun terhambat oleh plot yang umum dan tidak orisinal.
Ghostbusters: Frozen Empire adalah contoh nyata bagaimana sebuah sekuel berusaha keras untuk melanjutkan warisan yang bersejarah namun terjebak dalam upaya yang tidak sepenuhnya berhasil. Meskipun terdapat momen-momen yang menghibur, keseluruhan pengalaman menonton ini tidak mampu menandingi kenangan indah dari film-film pendahulunya.
Rate: 6.5/10
Komentar
Posting Komentar