Ulasan Film Bad Boys: Ride or Die (2024) – Mengarungi Gelapnya Jalanan Miami dengan Semangat Tak Terbendung
Pada era di mana sinema aksi kerap kali dibalut dengan formula yang sudah basi, Bad Boys: Ride or Die hadir seperti angin segar di antara badai. Meskipun banyak yang akan mengingat franchise ini sebagai sekadar penghibur semata, film keempat ini berhasil menghadirkan sesuatu yang berbeda, sebuah perpaduan antara adrenalin tinggi dan sentuhan emosional yang membuat kita terhanyut dalam setiap adegan.
Will Smith kembali sebagai Mike Lowrey, seorang polisi flamboyan yang dulu tak gentar menghadapi maut. Namun, kali ini ia berada di persimpangan hidup yang mengejutkan, di mana cintanya yang baru ditemukan membuatnya lebih rentan daripada sebelumnya. Ketakutan akan kehilangan membuatnya terjebak dalam pusaran serangan panik yang tak terkendali, terutama di saat-saat genting. Dalam sebuah twist yang cerdas, kita melihat Mike yang dulu begitu percaya diri kini harus menghadapi ketakutan yang menghantui setiap tembakan peluru. Ini adalah karakter yang lebih manusiawi, yang membuat kita tidak hanya melihatnya sebagai pahlawan, tetapi juga sebagai manusia biasa dengan ketakutan dan kerentanannya.
Di sisi lain, Marcus Burnett, yang diperankan oleh Martin Lawrence, mengalami perubahan yang lebih aneh. Setelah serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya, Marcus menjadi lebih ceria dan sembrono, sebuah perubahan yang seolah-olah bertentangan dengan karakter aslinya yang selalu bijaksana dan penuh perhitungan. Marcus yang ceria dan penuh candaan ini berhasil memberikan beberapa momen tawa.
Jika ada satu hal yang selalu menjadi kekuatan dalam franchise ini, itu adalah adegan aksi yang spektakuler. Bad Boys: Ride or Die tidak mengecewakan dalam hal ini. Dengan arahan Adil & Bilall yang kembali ke kursi sutradara, kita disuguhkan dengan aksi sinematik yang memukau, memanfaatkan kamera yang dinamis dan efek praktis yang memperkuat setiap ledakan dan tembakan. Bahkan ada satu sekuen aksi dengan sudut pandang orang pertama yang menjadi hal baru bagi franchise ini. Secara keseluruhan adegan aksi film ini terasa seperti simfoni kekacauan yang indah, di mana setiap gerakan kamera dan pancaran warna teratur dalam harmoni yang sempurna.
Plot Bad Boys: Ride or Die membawa kita pada sebuah investigasi yang penuh intrik, di mana Mike dan Marcus harus membersihkan nama Kapten Howard yang difitnah bekerja sama dengan kartel sejak tahun 2003. Dalam usaha ini, mereka harus bekerjasama dengan Armando, putra Mike yang dipenjara, untuk melacak dalang di balik konspirasi ini. Sayangnya, misi ini berubah menjadi perburuan, di mana mereka menjadi buronan yang diburu oleh putri Kapten Howard yang diperankan oleh Rhea Seehorn. Sentuhan ala The Fugitive terasa jelas dalam narasi ini, memberikan ketegangan tambahan yang membuat kita terpaku di kursi sepanjang film.
Meskipun Bad Boys: Ride or Die berusaha mempertahankan keseimbangan antara humor dan aksi, ada momen-momen di mana komedinya terasa tidak pas. Di samping itu, perkembangan karakter yang lebih mendalam membuat kita lebih terhubung dengan Mike, menyadari bahwa bahkan pahlawan terkuat pun dapat merasa takut kehilangan. Dalam hal visual, film ini adalah pesta untuk mata. Penggunaan efek praktis, seperti darah yang menyembur, memberikan nuansa retro yang menyenangkan, membawa kita kembali ke masa kejayaan film aksi di tahun 90-an.
Akhirnya, Bad Boys: Ride or Die adalah film yang tidak mencoba menjadi lebih dari apa yang seharusnya. Ini adalah film musim panas yang menyenangkan, di mana kita bisa melupakan dunia sejenak dan menikmati adrenalin yang mengalir dengan bebas. Meskipun beberapa orang menganggap episode ini tidak lebih baik dari prekuelnya, film ini tetap memiliki pesonanya sendiri, terutama dalam penyajian aksi yang penuh warna dan karakter Mike Lowrey yang lebih mendalam. Bagi para penggemar franchise ini, Bad Boys: Ride or Die adalah sebuah perjalanan nostalgia yang memuaskan.
Rate: 7.5+/10
Komentar
Posting Komentar