Ulasan Film Thelma (2024): Sebuah Kisah yang Menggugah tentang Pemberontakan di Usia Senja

Thelma adalah sebuah film yang dengan penuh cinta dan sentuhan humor merangkai kisah seorang wanita lansia yang menolak untuk diperlakukan seperti anak kecil. Ditulis, disutradarai, dan diedit oleh Josh Margolin, film ini memberikan penghormatan yang menyentuh kepada para orang tua, terutama nenek yang menjadi inspirasi bagi karakter utamanya, Thelma.

Film ini membawa kita ke dalam kehidupan Thelma, seorang wanita berusia 93 tahun, yang diperankan dengan keanggunan luar biasa oleh June Squibb. Dalam film ini, Margolin memadukan rasa hormat dan canda yang halus, menciptakan potret hubungan antar-generasi yang jarang kita lihat di layar lebar.

Thelma memiliki hubungan yang sangat dekat dengan cucunya, Daniel (diperankan oleh Fred Hechinger), seorang pemuda dari generasi Z yang hidupnya tampak tidak jelas arahnya. Mereka berdua terikat oleh satu kesamaan: perlakuan yang menginfantilisasi dari keluarga mereka sendiri. Daniel, yang seharusnya berada dalam fase hidup yang lebih mandiri, diperlakukan seperti anak kecil oleh orang tuanya, sementara Thelma, dengan segala pengalamannya, dianggap tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

Margolin dengan cermat menampilkan ketidakadilan ini, membawa kita menyelami kehidupan sehari-hari mereka dengan rasa humor yang lembut dan observasi yang tajam. Thelma dan Daniel, meski terpaut usia puluhan tahun, memiliki kesamaan dalam cara mereka diperlakukan oleh orang-orang yang mereka cintai, yang justru menjadi penghalang bagi kebebasan mereka.

Ketika Thelma menjadi korban penipuan telepon yang merugikan dia sebesar $10.000, kita disuguhi potret yang jujur tentang ketidakberdayaan yang dialami orang tua di zaman modern. Putri Thelma, Gail (Parker Posey) dan suaminya, Alan (Clark Gregg), digambarkan sebagai orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai-sampai mereka tidak bisa menjawab panggilan darurat Thelma. Tragedi ini menyoroti betapa rapuhnya posisi Thelma dalam keluarga, dan bagaimana teknologi modern bisa menjadi musuh yang tak terlihat bagi generasi yang lebih tua.

Namun, Thelma bukanlah wanita yang mudah menyerah. Setelah kehilangan uangnya, ia memutuskan untuk mengambil tindakan, memulai petualangan yang penuh dengan keberanian dan kegigihan, meskipun langkah-langkahnya kadang-kadang salah arah dan berisiko.

Salah satu elemen yang menambah keunikan film ini adalah cara Margolin memasukkan elemen humor visual yang terinspirasi dari Mission: Impossible. Ada momen ketika Thelma, yang sedang menonton Tom Cruise berlari melintasi atap Eropa dalam film tersebut, mendapatkan dorongan untuk bertindak. Inspirasi ini, meskipun tampak konyol, sebenarnya membawa nuansa kesedihan yang dalam ketika kita mengingat bagaimana seluruh franchise Mission: Impossible adalah upaya Cruise untuk melawan penuaan.

Film ini menggunakan humor untuk menyoroti realitas pahit yang dialami oleh orang tua, termasuk Thelma yang kadang-kadang merasa kewalahan hanya untuk bangun dari lantai setelah terjatuh. Namun, semangat Thelma untuk tidak menyerah dan terus berjuang meski di usia senjanya, membuatnya menjadi pahlawan dalam arti yang paling manusiawi.

Dalam petualangannya, Thelma bertemu kembali dengan Ben (Richard Roundtree), seorang duda dan kenalan lama yang awalnya ia anggap membosankan. Namun, ketika Thelma membutuhkan bantuan, Ben, dengan skuter merah cerahnya, menjadi sekutu yang tidak diduga-duga.

Richard Roundtree, dalam penampilan terakhirnya sebelum wafat pada usia 81 tahun, memberikan akting yang penuh kedalaman dan nuansa. Roundtree menghadirkan karakter Ben dengan keaslian yang jarang kita lihat. Persahabatan antara Thelma dan Ben, meskipun tidak sempurna, adalah cerminan dari bagaimana hubungan antar-manusia bisa berkembang bahkan di usia yang tak muda lagi.

Pada akhirnya, Thelma adalah sebuah kisah yang menyentuh tentang kebebasan dan keteguhan hati. Meskipun Thelma bukanlah orang suci, dan sering membuat keputusan yang dipertanyakan, keberaniannya untuk mempertahankan kemandirian dan menolak menjadi korban adalah yang membuatnya menjadi karakter yang tak terlupakan.

Dengan sentuhan humor yang cerdas, akting yang luar biasa, dan cerita yang menggugah hati, Thelma tidak hanya menjadi penghormatan kepada mereka yang telah mencapai usia lanjut, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kebebasan, keberanian, dan semangat untuk terus berjuang, tak peduli berapa pun usia kita.

Rate: 7++/10

Komentar