Sebagai penggemar film bertema bencana, Twister (2024) tentu menjadi salah satu tontonan yang saya nantikan. Film ini merupakan kelanjutan spiritual dari film Twister (1996), dengan nuansa yang diupdate untuk generasi penonton modern. Namun, meski banyak momen menarik, film ini meninggalkan kesan yang sedikit campur aduk bagi saya.
Dari segi visual, Twister (2024) jelas tidak mengecewakan. Adegan badai tornado yang mendebarkan disajikan dengan efek visual yang sangat memukau. Saya bisa merasakan intensitas badai yang menghancurkan segalanya di jalannya. Penggunaan CGI-nya terasa mulus, terutama pada adegan tornado yang berubah menjadi fire tornado setelah menabrak kilang minyak. Visual ini benar-benar menjadi kekuatan utama film, mengingat genre film ini memang sangat bergantung pada bagaimana alam bisa menjadi "musuh" yang kuat dan tak terduga.
Namun, jika berbicara tentang jalan cerita, Twister (2024) sedikit terasa formulaik. Karakter utama, Kate Carter, seorang mantan pengejar badai yang kembali ke medan untuk menyelesaikan proyek yang sudah lama ia impikan, memang membawa beban emosional akibat trauma masa lalunya. Meski premis ini menarik, sayangnya pengembangan karakter Kate dan beberapa karakter pendukung seperti Tyler dan Javi terasa kurang mendalam. Konflik pribadi antara karakter-karakter ini sepertinya hanya disentuh di permukaan, sehingga saya merasa kurang terhubung secara emosional dengan perjuangan mereka.
Salah satu aspek yang juga mengurangi kekuatan film ini adalah pacing atau tempo penceritaannya. Ada beberapa momen dalam film yang terasa lambat, terutama ketika adegan non-aksi mendominasi layar. Pada saat itulah perhatian saya mulai teralihkan, karena saya mengharapkan sesuatu yang lebih cepat dan intens. Beberapa karakter pendukung juga tampil dengan peran yang klise, seperti videografer Boone atau mekanik Dani, yang perannya hanya sebagai penunjang cerita tanpa diberikan banyak pengembangan yang berarti.
Meski begitu, Twister (2024) masih menyajikan beberapa momen dramatis yang cukup efektif. Adegan saat Kate dan timnya berusaha menyelamatkan warga, di mana mereka membawa orang-orang ke dalam bioskop sebagai tempat berlindung dari tornado, cukup mendebarkan.
Di sisi lain, chemistry antara Daisy Edgar-Jones sebagai Kate dan Glen Powell sebagai Tyler cukup menyenangkan untuk ditonton. Keduanya berhasil membawa dinamika yang menarik, meski beberapa dialog di antara mereka terasa agak dipaksakan. Hubungan antara Kate dan Tyler yang berkembang dari sekadar kolega menjadi sesuatu yang lebih personal, menambah lapisan emosi dalam film ini, meski tidak terlalu mendalam.
Jika dibandingkan dengan film aslinya, Twister (2024) tampak mencoba mengikuti jejak pendahulunya, tetapi dengan pendekatan yang lebih modern. Meski ada beberapa elemen yang menarik, saya merasa film ini tidak memiliki dampak emosional yang sama seperti versi tahun 1996. Ada banyak potensi yang bisa digali lebih dalam, terutama dari sisi karakter dan pengembangan cerita.
Kesimpulannya, Twister (2024) adalah film yang memikat dari segi visual, tetapi agak mengecewakan dalam hal narasi dan pengembangan karakter. Meski tetap memberikan hiburan dan beberapa adegan mendebarkan, film ini terasa seperti produk bencana yang sudah pernah kita lihat sebelumnya. Ini bukan film yang buruk, tetapi juga tidak bisa dibilang luar biasa. Bagi penggemar film bencana atau mereka yang hanya ingin menyaksikan efek badai tornado yang menakjubkan, Twister (2024) masih layak untuk ditonton, meski ekspektasi mungkin perlu diturunkan sedikit.
Rate: 6-7/10
Komentar
Posting Komentar