Blitz (2024) cukup berhasil dalam menggabungkan ketegangan perang dan drama manusiawi dalam latar belakang London yang hancur akibat serangan udara Nazi. Seperti yang kita tahu, film perang sering kali berfokus pada pertempuran besar atau taktik militer, tetapi Blitz memilih untuk memperlihatkan dampak perang dari perspektif yang lebih pribadi dan intim, yakni melalui perjalanan seorang anak bernama George yang berusaha menemukan ibunya setelah terpisah akibat kekacauan yang terjadi.
Film ini membawa kita pada masa-masa kelam di London pada tahun 1940, saat serangan udara oleh Jerman mulai menghancurkan kota dan memaksa warga sipil untuk bersembunyi di tempat perlindungan. Dalam situasi tersebut, George, yang baru berusia sembilan tahun, harus berpisah dari ibunya, Rita, ketika mereka terpaksa dievakuasi ke tempat yang aman. George kemudian memutuskan untuk mencari ibunya, menghadapi segala bahaya dan ketidakpastian yang ada di sepanjang jalan.
Saoirse Ronan yang memerankan Rita berhasil menunjukkan kedalaman emosional dalam karakternya. Sebagai seorang ibu yang terpisah dari anaknya dalam situasi perang, ia menggambarkan keteguhan hati dan cinta yang tulus meskipun di tengah ancaman bahaya. Ronan memiliki kemampuan luar biasa untuk membawa penonton merasa cemas dan berharap pada setiap tindakannya. Di sisi lain, Elliott Heffernan yang memerankan George juga memberi penampilan yang sangat meyakinkan. Sebagai anak kecil yang harus menghadapi dunia yang tiba-tiba menjadi sangat keras dan penuh ketidakpastian, Heffernan berhasil menunjukkan kekuatan dan keberanian meskipun terkesan rapuh.
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam Blitz adalah sinematografi yang dikerjakan oleh Yorick Le Saux. Film ini berhasil menangkap atmosfer perang dengan sangat baik—London yang hancur, bangunan yang rusak, dan langit yang dipenuhi oleh ledakan dan asap tebal. Setiap frame terasa sangat detail dan hidup, membawa penonton ke dalam pengalaman tersebut. Kamera yang bergerak dengan halus juga berhasil memfokuskan pada momen-momen intim antara karakter, yang memberi dampak emosional yang lebih mendalam.
Namun, meskipun film ini secara keseluruhan sangat menarik, ada beberapa kekurangan yang perlu dicatat. Beberapa penonton mungkin merasa bahwa film ini agak konvensional dalam pendekatannya. Meskipun film ini mengangkat tema yang sangat penting dan emosional, tidak ada hal baru yang benar-benar ditawarkan dalam hal narasi atau penanganan tema perang. Cerita mengenai seorang anak yang mencari ibunya dalam situasi perang sudah cukup sering kita temui dalam film-film sebelumnya, dan meskipun Blitz mengemasnya dengan baik, saya merasa ada elemen yang terasa sedikit familiar dan terduga.
Selain itu, tempo film ini agak lambat di beberapa bagian. Beberapa adegan terasa agak panjang, yang bisa membuat penonton merasa kurang terlibat dalam beberapa momen. Di sisi lain, ini bisa dilihat sebagai cara bagi sutradara untuk menunjukkan kesabaran dan ketekunan dalam perjuangan karakter, tetapi bagi sebagian orang, hal ini mungkin sedikit mengurangi ketegangan yang seharusnya ada.
Pada akhirnya, meskipun Blitz bukanlah film perang yang paling inovatif atau mencolok, ia tetap menjadi film yang kuat secara emosional dan layak untuk ditonton. Bagi saya, film ini lebih menyoroti sisi kemanusiaan dalam perang, dan meskipun beberapa kekurangan terasa ada, saya tetap menghargai cara film ini menggabungkan drama pribadi dengan konteks perang yang luas.
Secara keseluruhan, Blitz adalah sebuah film yang sukses dalam menyampaikan kedalaman emosional dan atmosfer perang yang mencekam. Dengan pengambilan gambar yang indah, penampilan luar biasa dari para pemain, dan musik yang menambah intensitas, film ini menawarkan pengalaman yang cukup berkesan meskipun tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan. Jika Anda menyukai film perang dengan fokus pada cerita pribadi dan ketahanan manusia, Blitz dapat menjadi tontonan yang menarik dan menggugah.
Rate: 6,5-7/10
Komentar
Posting Komentar