Langsung ke konten utama

Ulasan Film Deva (2025): Film Aksi dengan Karakter Utama yang Sulit Diterima

Deva (2025) adalah film aksi thriller Hindi yang menjanjikan adrenalin tinggi, disutradarai oleh Rosshan Andrrews dan diproduseri oleh Siddharth Roy Kapur di bawah Roy Kapur Films. Dibintangi Shahid Kapoor sebagai Dev Ambre, seorang polisi pemberontak, dan Pooja Hegde sebagai Diya, seorang jurnalis pemberani, film ini merupakan remake dari film Malayalam *Mumbai Police* (2013). Dengan durasi sekitar 2 jam 36 menit, Deva mengusung cerita tentang seorang polisi yang kehilangan ingatan pasca-kecelakaan dan harus menyelidiki kembali kasus pembunuhan rekan kerjanya. 

Film ini berfokus pada Dev Ambre, seorang polisi Mumbai yang dikenal arogan, pemarah, dan sering melanggar aturan, namun memiliki hati yang tulus dan rasa keadilan yang kuat. Dev terlibat dalam penyelidikan pembunuhan sahabatnya, ACP Rohan D’Silva, tetapi kecelakaan membuatnya kehilangan ingatan. Dengan bantuan Farhan, kakak iparnya yang juga Deputy Commissioner, dan Diya, seorang jurnalis yang menjadi kekasihnya, Dev berusaha merekonstruksi kasus tersebut. Namun, semakin dalam ia menyelami kasus, semakin banyak kebenaran kelam yang terungkap, termasuk rahasia tentang dirinya sendiri. Latar kota Mumbai yang sibuk dan kelam menambah intensitas narasi, meskipun cerita terkadang kehilangan fokus.

Dari segi teknis, Deva menawarkan pengalaman visual yang memukau. Sinematografi oleh Amit Roy berhasil menangkap dinamika jalanan Mumbai dengan pengambilan gambar yang autentik, menggunakan lokasi asli untuk memperkuat suasana. Pencahayaan dramatis dan sudut kamera yang kreatif membuat setiap adegan aksi terasa hidup. Adegan-adegan pertarungan dan kejar-kejaran dikoreografikan dengan rapi, memberikan ketegangan yang konsisten. Editing oleh A. Sreekar Prasad, meskipun terkadang terasa sedikit tersendat di paruh kedua, tetap mampu menjaga ritme yang cukup dinamis.

Skor musik oleh Jakes Bejoy, ditambah lagu-lagu seperti “Bhasad Macha” oleh Vishal Mishra, memperkuat intensitas emosional dan aksi. Lagu-lagu tersebut, terutama dalam adegan pernikahan atau momen penuh energi, menambah daya tarik tersendiri. Namun, penggunaan musik latar di beberapa momen krusial terasa kurang maksimal, membuat suspense sedikit berkurang. Secara keseluruhan, aspek teknis film ini adalah salah satu pilar kekuatannya.

Shahid Kapoor adalah bintang utama dalam film ini. Penampilannya sebagai Dev Ambre menunjukkan rentang emosi yang luas, dari kemarahan yang meledak-ledak hingga kerentanan yang menyentuh. Ia berhasil menghidupkan karakter yang kompleks, meskipun naskah tidak selalu mendukungnya. Adegan aksi, yang menjadi jantung film ini, dieksekusi dengan apik. Koreografi pertarungan yang realistis dan penuh energi membuat penonton terpaku. Selain itu, chemistry antara Dev dan Diya, meskipun tidak sepenuhnya dieksplorasi, memberikan momen-momen hangat yang menyeimbangkan intensitas aksi.

Latar kota Mumbai yang digambarkan dengan detail juga menjadi nilai tambah. Nuansa kelam dan sibuk kota ini mencerminkan kekacauan batin Dev, menambah kedalaman visual pada cerita. Performa pendukung, seperti Pavail Gulati sebagai Rohan dan Pravessh Rana sebagai Farhan, memberikan dimensi tambahan, meskipun peran mereka terbatas oleh naskah.

Meskipun menawarkan aksi yang solid, Deva tersandung dalam pengembangan cerita dan karakter. Salah satu hal yang kurang saya sukai adalah penggambaran Dev sebagai tokoh yang berdiri persis di zona abu-abu antara kebaikan dan kejahatan. Dalam psikologi, manusia cenderung condong ke salah satu sisi—baik atau jahat—dan jarang sekali berada tepat di tengah secara konsisten. Pendekatan ini membuat Dev sulit diterima sebagai karakter yang autentik, bahkan dalam konteks fiksi, sehingga menyulitkan penonton untuk benar-benar terhubung dengannya.

Selain itu, naskah film ini sering kali terasa klise dan kurang mendalam. Perubahan klimaks dari versi asli *Mumbai Police*—yang awalnya memiliki elemen kejutan yang kuat—membuat cerita kehilangan nilai kejutannya. Klimaks baru ini terasa dipaksakan dan lebih berorientasi pada aksi ketimbang kedalaman emosional. Beberapa subplot, seperti intrik kriminal yang melibatkan politisi atau geng, tidak dijelaskan dengan baik, meninggalkan lubang cerita. Peran Pooja Hegde sebagai Diya juga terasa kurang dimanfaatkan; karakternya lebih sebagai pendamping Dev ketimbang memiliki dampak signifikan pada cerita.

Deva adalah film yang menghibur, terutama bagi penggemar aksi dan penampilan Shahid Kapoor. Kualitas sinematografi, adegan aksi yang intens, dan performa utama yang kuat adalah alasan untuk menontonnya. Namun, bagi mereka yang mengharapkan narasi yang mendalam atau klimaks yang mengguncang seperti *Mumbai Police*, film ini mungkin terasa mengecewakan. Deva berhasil sebagai hiburan aksi, tetapi gagal mencapai potensi penuhnya sebagai thriller psikologis karena naskah yang lemah dan karakter utama yang kurang relatable.

Bagi yang menikmati film aksi Bollywood dengan dosis drama dan intrik, Deva layak masuk daftar tontonan. Film ini juga menunjukkan bahwa perfilman Hindi mampu menghadirkan produksi berkualitas tinggi, meskipun masih perlu memperbaiki aspek penceritaan untuk bersaing dengan karya-karya orisinal seperti pendahulunya.

Deva (2025) adalah aksi thriller yang memukau secara visual dan dipimpin oleh penampilan luar biasa Shahid Kapoor. Sinematografi yang apik, adegan aksi yang mendebarkan, dan skor musik yang energetik menjadi kekuatan utama film ini. Namun, naskah yang klise, klimaks yang kurang impactful, dan penggambaran karakter utama yang terlalu ambigu menghambat potensinya. 

Rate: 7-/10 

Komentar