Langsung ke konten utama

Ulasan Film Mickey 17 (2025): Satir Cerdas dengan Visual Memesona

Poster Film Mickey 17 (2025)

Film Mickey 17 (2025), karya sutradara pemenang Oscar Bong Joon-ho, hadir sebagai sebuah fiksi ilmiah berbalut komedi gelap yang unik. Diadaptasi dari novel Mickey7 karya Edward Ashton, film ini membawa kita ke tahun 2054, mengikuti kisah Mickey Barnes, seorang pekerja “expendable” yang dikloning berulang kali untuk misi berbahaya di planet es Niflheim. Dengan durasi 137 menit, film ini menawarkan perpaduan satir politik, humor absurd, dan visual futuristik yang memanjakan mata. Namun, saya merasa meski penuh ambisi, film ini tidak sepenuhnya mencapai potensi maksimalnya. 

Mickey Barnes (Robert Pattinson) adalah seorang pria biasa yang melarikan diri dari kehidupan sulit di Bumi dengan mendaftar sebagai “expendable” dalam misi kolonisasi planet Niflheim. Sebagai expendable, ia menjalani tugas berisiko tinggi, mati, lalu dicetak ulang dengan teknologi kloning canggih, lengkap dengan sebagian besar ingatannya. Namun, masalah muncul ketika Mickey 17, yang seharusnya mati, bertahan hidup dan bertemu dengan klonnya, Mickey 18. Keberadaan dua Mickey dilarang, memicu konflik dengan pemimpin kolonisasi yang otoriter, Kenneth Marshall (Mark Ruffalo), serta ancaman dari makhluk asli planet, Creepers. Di tengah kekacauan, Mickey juga menjalin hubungan dengan Nasha (Naomi Ackie), seorang petugas keamanan.

Cerita ini mengeksplorasi tema berat seperti kapitalisme, eksploitasi manusia, dan krisis identitas, dibalut dengan humor gelap dan sindiran sosial khas Bong Joon-ho.

Kelebihan Film Mickey 17

1. Visual dan Sinematografi yang Spektakuler

Salah satu daya tarik utama Mickey 17 adalah estetika visualnya. Sinematografi oleh Darius Khondji menghadirkan planet Niflheim dengan palet warna dingin—dominan biru pucat dan abu-abu putih—yang memperkuat suasana keterasingan dan ketegangan. Desain produksi, mulai dari interior kapal antariksa hingga makhluk Creeper yang menyerupai hibrida kecoa dan ulat, terasa detail dan imersif. Adegan kloning, di mana tubuh Mickey dicetak ulang dengan efek CGI mulus, terlihat realistis dan menambah bobot pada konsep futuristik film ini. Skor musik karya Jung Jae-il, yang sebelumnya menggarap Parasite, juga memperkaya nuansa emosional, terutama pada momen-momen dramatis.

2. Penampilan Akting yang Kuat

Robert Pattinson sekali lagi membuktikan kepiawaiannya sebagai aktor serba bisa. Ia memerankan Mickey 17 yang polos dan penuh ketakutan dengan kontras sempurna terhadap Mickey 18 yang agresif dan pemberani. Gestur, mimik, dan aksen yang berbeda untuk kedua karakter ini menunjukkan kedalaman aktingnya. Mark Ruffalo sebagai Kenneth Marshall menghadirkan karisma villain yang dingin namun karikatural, sementara Naomi Ackie sebagai Nasha memberikan dinamika emosional yang menyegarkan. Toni Collette dan Steven Yeun, meski dengan porsi terbatas, tetap memberikan penampilan solid yang mendukung cerita.

3. Satir Sosial yang Tajam

Bong Joon-ho tetap konsisten dengan gaya berceritanya yang kaya kritik sosial. Mickey 17 menggambarkan eksploitasi pekerja melalui konsep expendable, di mana nyawa manusia diperlakukan sebagai komoditas. Isu kolonialisme, fasisme, dan ketamakan korporasi disampaikan melalui dialog absurd dan situasi yang menggelitik. Salah satu momen memorable adalah ketika Mickey dihadapkan pada pertanyaan berulang, “Apa rasanya mati?”—sebuah sindiran tentang rasa ingin tahu manusia yang sering mengabaikan empati.

Penampilan brilian Mark Ruffalo dan Toni Collette dalam Film Mickey 17 (2025)

Kekurangan Film Mickey 17

1. Alur Cerita yang Kurang Padu

Meski ambisius, alur Mickey 17 terasa inkonsisten. Dua babak pertama berhasil membangun ketegangan dan memperkenalkan dunia futuristik dengan baik, tetapi babak ketiga terasa terburu-buru dan kurang memuaskan. Banyak subplot, seperti konflik dengan Creepers atau latar belakang karakter pendukung, tidak dieksplorasi secara mendalam, membuat klimaks film terasa kurang “menggigit.” Transisi antara komedi dan drama juga terkadang terasa janggal, sehingga emosi penonton tidak sepenuhnya tersampaikan.

2. Komedi yang Tidak Selalu Landai

Humor gelap adalah ciri khas Bong, tetapi dalam Mickey 17, tidak semua lelucon mendarat dengan baik. Beberapa dialog absurd atau situasi konyol terasa dipaksakan, terutama di tengah momen yang seharusnya serius. Ini membuat film kadang kehilangan fokus, terutama bagi penonton yang mengharapkan komedi yang lebih konsisten atau narasi yang lebih tajam seperti Parasite.

3. Potensi Planet Niflheim yang Kurang Tergali

Meski visual Niflheim memukau, penggambaran planet ini terasa kurang dieksplorasi. Sebagian besar cerita berlangsung di dalam kapal antariksa, sehingga penonton tidak banyak melihat keunikan dunia luar planet es tersebut. Makhluk Creeper, yang awalnya menjanjikan, juga hanya muncul tanpa peran signifikan, menyisakan rasa penasaran yang tidak terpenuhi.

Kesimpulan: Layak Ditonton, Tapi Bukan Puncak Bong Joon-ho

Mickey 17 adalah film fiksi ilmiah yang cerdas, menghibur, dan sarat makna, namun tidak mencapai level kehebatan Parasite atau Snowpiercer. Visualnya spektakuler, aktingnya memukau, dan satir sosialnya menggugah pikiran, tetapi alur yang kurang padu dan komedi yang tidak konsisten sedikit mengurangi pesonanya. Film ini sangat direkomendasikan untuk penggemar sci-fi yang menyukai narasi kompleks dan penggemar Bong Joon-ho yang ingin melihat eksplorasi barunya di Hollywood. 

Informasi Film

  • Judul: Mickey 17 (2025)
  • Sutradara: Bong Joon-ho
  • Pemeran: Robert Pattinson, Naomi Ackie, Mark Ruffalo, Toni Collette, Steven Yeun
  • Genre: Fiksi Ilmiah, Komedi Gelap
  • Durasi: 137 menit
  • Cinema Curator Rating: 7-7.5/10

Apa pendapatmu tentang Mickey 17? Tulis di kolom komentar dan bagikan ulasan ini jika kamu menyukainya!

Komentar