Havoc mengisahkan Walker (Tom Hardy), seorang detektif korup yang hidupnya penuh kekacauan. Setelah sebuah transaksi narkoba berjalan kacau, Walker terjebak dalam misi untuk menyelamatkan anak seorang politisi yang terlibat dalam dunia kriminal. Ia harus menyelami jaringan kejahatan di kota metropolitan yang kelam, menghadapi mafia, polisi korup, dan berbagai ancaman. Dengan latar belakang Chinatown yang penuh neon dan hujan, film ini mencoba membangun suasana neo-noir yang gritty.
Jika ada satu alasan untuk menonton Havoc, itu adalah adegan-adegan aksinya, terutama gunfight yang dikoreografikan dengan sangat baik. Gareth Evans, yang dikenal dengan pendekatan brutal namun artistik dalam The Raid, kembali menunjukkan keahliannya. Setiap tembak-menembak terasa intens, dengan kamera yang bergerak lincah mengikuti ritme chaos. Salah satu sorotan adalah adegan di klub malam, di mana perpaduan seni bela diri, tembakan slow-motion, dan musik elektronik menciptakan pengalaman yang memacu adrenalin.
Tom Hardy juga menjadi magnet di layar. Meski karakternya kurang memiliki kedalaman, Hardy membawa karisma dan intensitas fisik yang membuat setiap pukulan dan tembakan terasa nyata. Quelin Sepulveda sebagai Mia, seorang pejuang gesit, juga menambah warna dengan gaya bertarungnya yang kreatif, menggunakan segala sesuatu—dari pisau hingga ember es—sebagai senjata. Sinematografi oleh Matt Flannery patut diacungi jempol, dengan pencahayaan neon yang memperkuat estetika kota yang suram dan penuh kekacauan.
Meski aksinya luar biasa, Havoc sedikit terhambat oleh naskah yang, bisa dibilang tidak jelek tapi juga tidak istimewa. Ceritanya terasa seperti gabungan klise dari film-film aksi era 80-an dan 90-an, dengan trope detektif bermasalah, konspirasi korupsi, dan penutup yang mungkin mudah ditebak bagi penggemar genre ini. Karakter-karakter pendukung, meski diperankan oleh aktor berbakat seperti Forest Whitaker dan Timothy Olyphant, tidak diberi ruang untuk berkembang. Mereka lebih terasa seperti alat untuk memajukan plot ketimbang manusia dengan motivasi nyata.
Selain itu, penggunaan CGI dalam beberapa adegan gore kadang terasa sedikit berlebihan dan mengganggu. Darah yang muncrat terlalu banyak kadang terlihat seperti efek video game. Penggunaan kamera yang terlalu agresif di beberapa scene juga bisa membuat penonton pusing, terutama di adegan pembuka yang penuh guncangan. Film ini seolah ingin terus meneriakkan “lihat betapa intensnya aku!” tanpa memberikan jeda untuk penonton bernapas atau peduli pada karakternya.
Secara teknis, Havoc punya banyak hal untuk ditawarkan. Selain sinematografi yang telah disebutkan, desain suara film ini sangat baik. Dentuman senjata, derit ban mobil, dan teriakan di tengah kekacauan terasa nyata, menciptakan pengalaman audiovisual yang imersif. Musik latar yang didominasi oleh elektronik dan perkusi juga mendukung ritme cepat film ini, meski kadang terasa berlebihan di momen-momen yang seharusnya lebih tenang.
Durasi 1 jam 47 menit sebenarnya cukup pas untuk film aksi, tetapi distribusi pacing-nya kurang merata, dengan klimaks yang terasa terlalu cepat diselesaikan.
Havoc adalah film untuk penggemar aksi keras yang tidak keberatan dengan cerita yang tidak terlalu rumit. Jika Anda menyukai film seperti John Wick atau The Raid, Anda akan menikmati intensitas dan koreografi laga di sini. Namun, jika Anda mencari narasi yang mendalam atau karakter yang memorable, film ini mungkin tidak akan memuaskan. Rating yang kami berikan kali ini tidak menggambarkan keseluruhan film, tapi lebih ke adegan gunfight-nya yang sangat seru.
Havoc adalah film yang berhasil menghibur lewat aksi brutal dan gunfight yang dikoreografikan dengan apik, tetapi tidak menawarkan cerita yang benar-benar berkesan. Tom Hardy dan tim produksi memberikan performa maksimal dalam hal teknis, tetapi naskah yang klise dan beberapa keputusan visual yang meragukan menahan film ini dari potensi penuhnya. Jika Anda ingin menonton film aksi tanpa bertele-tele, Havoc adalah pilihan yang solid.
Rate: 7/10
Referensi:
Komentar
Posting Komentar