Secara naratif, Ketindihan berusaha memadukan elemen horor supernatural dengan drama keluarga dan konflik psikologis. Cerita berfokus pada perjuangan batin Tania, yang tertekan oleh ekspektasi ayahnya dan hubungan asmara yang tidak sehat. Tema ini sebenarnya cukup menarik karena relevan dengan realitas banyak orang muda yang hidup di bawah tekanan sosial dan keluarga. Penambahan elemen horor melalui fenomena ketindihan—yang dikenal secara ilmiah sebagai sleep paralysis—menambah dimensi menarik, terutama karena fenomena ini dekat dengan pengalaman budaya masyarakat Indonesia. Ketindihan sering dikaitkan dengan gangguan gaib, dan film ini mencoba mengeksplorasi mitos tersebut dengan cara yang cukup otentik.
Namun, alur cerita terasa sedikit kacau di beberapa bagian, terutama pada babak kedua, di mana konflik utama mulai terasa repetitif. Ritual pemanggilan Beuno, meskipun menjadi pemicu utama teror, tidak dieksplorasi dengan mendalam. Sosok Beuno sendiri kurang diberi latar belakang yang kuat, sehingga kehadirannya sebagai antagonis terasa kurang menakutkan dan lebih seperti alat plot untuk memajukan cerita. Selain itu, beberapa subplot, seperti hubungan Tania dengan teman-temannya, terasa kurang tergarap dan hanya berfungsi sebagai pengisi tanpa memberikan dampak emosional yang signifikan.
Dari segi teknis, Ketindihan menunjukkan kualitas produksi yang cukup baik. Sinematografi film ini patut diacungi jempol, terutama dalam menciptakan suasana mencekam saat adegan ketindihan. Penggunaan pencahayaan gelap dengan kontras tinggi berhasil membangun ketegangan, terutama pada momen-momen ketika Tania terbangun dalam keadaan tidak berdaya, diteror oleh bayangan gelap. Efek visual untuk menggambarkan sleep paralysis juga cukup efektif, meskipun tidak sepenuhnya orisinal karena mirip dengan pendekatan film horor lain.
Desain suara juga menjadi salah satu kelebihan film ini. Suara-suara halus seperti desisan atau langkah kaki di tengah malam berhasil meningkatkan rasa takut tanpa perlu mengandalkan jumpscare berlebihan. Musik latar yang minimalis namun mencekam turut mendukung atmosfer horor psikologis yang ingin dibangun.
Haico Van der Veken memberikan penampilan yang solid sebagai Tania. Ia berhasil memerankan karakter yang rapuh namun bertekad, dengan ekspresi yang meyakinkan saat menghadapi teror supernatural maupun konflik emosional. Donny Damara sebagai Beni juga tampil kuat, meskipun karakternya agak stereotipikal sebagai ayah yang keras dan ambisius. Sayangnya, chemistry antara Tania dan Coki (Kevin Ardilova) terasa kurang kuat, membuat konflik asmara mereka kurang menyentuh. Pemeran pendukung seperti Wulan Guritno dan Ali Fikry tampil cukup baik, tetapi peran mereka terasa terbatas dan kurang dimanfaatkan untuk memperkaya cerita.
Ketindihan adalah film horor yang cukup menarik namun tidak sepenuhnya memenuhi potensinya. Film ini berhasil menghadirkan atmosfer mencekam dan tema yang relevan, tetapi terhambat oleh alur dan eksplorasi mitologi yang dangkal. Bagi penggemar horor psikologis yang menyukai cerita dengan sentuhan drama keluarga, film ini mungkin menarik untuk ditonton, terutama untuk menikmati penampilan Haico Van der Veken dan sinematografi yang apik. Namun, bagi yang mengharapkan horor dengan plot twist yang mengejutkan atau pengembangan karakter yang mendalam, Ketindihan mungkin terasa sedikit kurang memuaskan.
Rate: 6/10
Informasi Film
- Judul: Ketindihan (Sleep Paralysis)
- Sutradara: Dyan Sunu Prastowo
- Pemeran: Haico Van der Veken, Kevin Ardilova, Donny Damara, Wulan Guritno
- Genre: Horor, Drama
- Tanggal Rilis: 9 Januari 2025
Komentar
Posting Komentar