Pengantin Iblis mengisahkan perjuangan Ranti (Taskya Namya), seorang ibu yang hidup bersama putrinya, Nina. Bersama keluarga besar suaminya, Bowo (Wafda Saifan), yang bekerja sebagai pelaut, Ranti menjalani kehidupan penuh tekanan ekonomi dan sosial. Ketika Nina mengalami kecelakaan fatal yang membutuhkan biaya operasi besar, Ranti terjebak dalam keputusasaan. Keluarganya tidak mampu membantu, dan suaminya tidak bisa dihubungi karena sedang melaut. Dalam situasi putus asa, Ranti menerima tawaran mistis untuk menjadi "pengantin iblis" demi menyembuhkan Nina. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi mengerikan yang mengancam nyawa seluruh keluarganya.
Salah satu kekuatan utama Pengantin Iblis terletak pada penampilan Taskya Namya sebagai Ranti. Aktingnya mampu menghidupkan karakter yang terperangkap antara cinta seorang ibu dan kengerian ritual mistis. Transisinya dari sosok ibu yang lembut menjadi figur mengerikan saat kesurupan iblis terasa alami dan membuat penonton bergidik. Adegan-adegan kesurupan yang ia perankan penuh intensitas, dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang memperkuat elemen horor. Taskya berhasil menjadi tulang punggung emosional film ini, membuat penonton ikut merasakan keputusasaan dan ketakutannya.
Aspek visual dan sinematografi film ini juga patut diacungi jempol. Pengambilan gambar berhasil menciptakan atmosfer mencekam, terutama pada adegan-adegan malam yang penuh bayangan. Penggunaan pencahayaan redup dan sudut kamera yang dinamis memperkuat nuansa horor tanpa terlalu mengandalkan jumpscare. Elemen gore dalam adegan pembantaian keluarga cukup mengejutkan dan dieksekusi dengan baik, memberikan sensasi ngeri yang memuaskan bagi penggemar horor. Efek khusus dan tata rias, terutama pada transformasi Ranti saat dirasuki, terlihat realistis dan menambah nilai estetika film.
Selain itu, film ini berusaha menyelipkan kritik sosial yang relevan, seperti tekanan pada perempuan untuk menjadi sempurna dalam peran domestik dan stigma terhadap menantu dalam keluarga besar. Tema ini terasa dekat dengan realitas masyarakat Indonesia, memberikan kedalaman emosional pada cerita.
Meski memiliki banyak kelebihan, Pengantin Iblis tidak lepas dari kekurangan. Salah satu kelemahan terbesar adalah alur cerita yang terasa bolong-bolong. Beberapa elemen penting, seperti latar belakang ritual pengantin iblis atau motivasi tokoh pendukung seperti sang dukun, tidak dijelaskan dengan memadai. Penonton dibiarkan bertanya-tanya tentang asal-usul iblis atau apa yang mendorong ritual ini terus ada. Pada poin ini, film yang seharusnya bisa lebih baik lagi, tidak sampai pada potensinya karena lagi-lagi harus jatuh pada stereotip film horor Indonesia. Ketidakjelasan ini membuat klimaks cerita kurang berdampak dan terasa tergesa-gesa.
Dialog dalam film juga menjadi titik lemah. Banyak percakapan terdengar kaku dan terlalu terpola, seolah-olah para aktor hanya membaca naskah tanpa emosi yang mendalam. Beberapa adegan yang seharusnya dramatis justru menjadi biasa saja karena ekspresi atau dialog yang kurang pas, mengurangi intensitas horor yang ingin dibangun.
Karakter pendukung, seperti Bowo atau adik ipar Ranti, juga kurang dieksplorasi. Bowo, misalnya, sebagai suami yang absen, tidak diberi ruang untuk menunjukkan dampaknya terhadap konflik keluarga. Hal ini membuat cerita terasa timpang dan kurang memberikan kepuasan naratif. Bahkan ketika Bowo mendapati istrinya 'berubah', reaksinya terlihat biasa saja.
Dari segi teknis, sinematografi menjadi salah satu aspek yang menonjol. Penggunaan warna kelam dan permainan bayangan menciptakan suasana mencekam yang mendukung genre horor. Namun, editing film terasa kurang rapi. Beberapa transisi antar adegan terlalu cepat, membuat penonton sulit mencerna perpindahan suasana. Musik latar juga terkadang terasa berlebihan, terutama pada momen-momen yang seharusnya tenang, sehingga mengganggu pengalaman menonton.
Sound design cukup efektif dalam membangun ketegangan, terutama pada adegan kesurupan atau kemunculan makhluk gaib. Namun, ada beberapa momen di mana efek suara terasa dipaksakan, mengurangi kesan alami dari horor psikologis yang ingin dihadirkan.
Pengantin Iblis adalah film horor yang menawarkan premis menarik dan akting memukau dari Taskya Namya, namun tersandung oleh alur yang kurang rapi dan dialog yang kaku. Film ini layak ditonton bagi penggemar horor yang mencari kombinasi antara ketegangan mistis dan drama keluarga. Elemen gore dan sinematografi yang kuat menjadi nilai tambah, tetapi kelemahan dalam pengembangan karakter dan penyelesaian plot membuatnya belum mencapai potensi penuh. Bagi Anda yang menyukai horor Indonesia dengan sentuhan budaya lokal, film ini tetap memberikan pengalaman yang cukup menghibur, meski tidak sempurna.
Rate: 6,5/10
Jika Anda ingin merasakan sendiri ketegangan yang ditawarkan, Pengantin Iblis tersedia di Netflix mulai 5 Juni 2025. Tonton di Netflix.
Komentar
Posting Komentar