Langsung ke konten utama

Ulasan Film Petaka Gunung Gede (2025): Horor Pegunungan yang Kurang Menegangkan


Film Petaka Gunung Gede (2025) hadir sebagai salah satu entri dalam genre horor Indonesia yang mengusung tema pendakian gunung. Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan ditulis oleh Upi Avianto, film ini diadaptasi dari kisah nyata yang sempat viral melalui podcast YouTube Prasodjo Muhammad. Dengan premis yang menjanjikan, film ini menggambarkan pengalaman mencekam sekelompok pendaki di Gunung Gede, Jawa Barat. Namun, meskipun menawarkan visual yang memukau dan atmosfer horor yang cukup efektif, film ini tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. 

Film ini berfokus pada dua sahabat karib, Maya (Arla Ailani) dan Ita (Adzana Ashel), yang memutuskan untuk mendaki Gunung Gede bersama kakak Maya, Indra (Raihan Khan), dan beberapa teman lainnya pada tahun 2007. Apa yang awalnya direncanakan sebagai petualangan seru saat libur sekolah berubah menjadi mimpi buruk ketika Ita, yang sedang menstruasi, melanggar mitos lokal yang melarang pendakian dalam kondisi tersebut. Teror mistis pun menghantui rombongan, ditandai dengan suara-suara misterius, penampakan, hingga insiden tragis yang menimpa Ita. Maya, yang skeptis terhadap mitos, bertekad mencari tahu penyebab sebenarnya di balik kematian sahabatnya, mengungkap rahasia kelam yang lebih kompleks dari sekadar pelanggaran mitos.

Salah satu kekuatan utama Petaka Gunung Gede terletak pada sinematografinya. Pengambilan gambar di lokasi ikonik seperti Surya Kencana dan Telaga Biru berhasil menangkap keindahan alam Gunung Gede sekaligus menciptakan nuansa mencekam yang mendukung genre horor. Pencahayaan alami dan pengaturan warna (color grading) memberikan kesan realistis, membuat penonton seolah ikut mendaki bersama para karakter. Adegan-adegan malam hari, dengan kabut dan bayangan, berhasil membangun ketegangan yang cukup efektif tanpa terlalu bergantung pada jumpscare murahan.

Performa akting juga menjadi nilai tambah. Arla Ailani sebagai Maya tampil meyakinkan, khususnya dalam menampilkan emosi kompleks dari skeptisisme hingga rasa bersalah. Adzana Ashel, yang memerankan Ita, berhasil menghidupkan karakter yang rentan namun penuh semangat, terutama dalam adegan kesurupan yang cukup intens. Chemistry antara kedua aktris ini terasa alami, memperkuat tema persahabatan yang menjadi inti cerita. Selain itu, elemen budaya lokal, seperti mitos pendakian dan kepercayaan masyarakat sekitar, menambah kedalaman cerita dan membuat起身

Namun, Petaka Gunung Gede terhambat oleh beberapa kekurangan signifikan. Alur cerita sering kali terasa berulang dan kurang terarah. Pola teror yang dialami rombongan—seperti penampakan, kerasukan, dan perselisihan—cenderung monoton, sehingga mengurangi dampak ketegangan di paruh kedua film. Plot twist di akhir cerita, yang seharusnya menjadi klimaks emosional, terasa terburu-buru dan kurang memberikan dampak yang kuat. Penyelesaian misteri yang menjadi inti cerita juga terasa dipaksakan, meninggalkan beberapa pertanyaan tanpa jawaban yang memuaskan.

Pengembangan karakter juga menjadi kelemahan. Selain Maya dan Ita, karakter pendukung seperti Indra, Ucup, dan Yadi kurang dieksplorasi, membuat mereka terasa seperti pelengkap tanpa dimensi yang jelas. Keputusan-keputusan yang diambil para karakter sering kali tidak rasional, seperti tetap melanjutkan pendakian meski sudah ada tanda-tanda bahaya, yang membuat penonton sulit bersimpati. Selain itu, tema konflik antara kepercayaan tradisional dan logika modern, yang seharusnya menjadi daya tarik unik, tidak digali secara mendalam. Akibatnya, pesan moral tentang menghormati kepercayaan lokal terasa dangkal dan kurang resonan.

Dari sisi teknis, film ini menunjukkan usaha yang patut diapresiasi. Desain suara cukup berhasil menciptakan atmosfer mencekam, meskipun penggunaan musik di beberapa adegan terasa tidak konsisten dan kadang mengganggu emosi penonton. Efek visual, seperti penampakan makhluk gaib, tergolong standar untuk film horor Indonesia, dengan beberapa momen yang kurang realistis, seperti prostetik yang terlihat murahan. Proses syuting di lokasi asli Gunung Gede, meski penuh tantangan, memberikan nilai tambah pada autentisitas pengalaman pendakian. Namun, editing film terasa kurang rapi, terutama pada transisi antar adegan yang kadang terasa tiba-tiba.

Petaka Gunung Gede adalah film horor yang cukup menarik namun tidak sepenuhnya memenuhi potensinya. Visual yang baik dan akting yang solid menjadi daya tarik utama, namun alur cerita yang monoton, pengembangan karakter yang lemah, dan eksekusi plot twist yang kurang matang membuat film ini terasa kurang memuaskan. Bagi penggemar horor lokal atau mereka yang menyukai cerita bertema pendakian, film ini tetap layak ditonton untuk menikmati atmosfernya yang mencekam dan keindahan Gunung Gede. Namun, bagi penonton yang mengharapkan narasi yang lebih kompleks dan emosional, film ini mungkin tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi.

Rate: 6-/10

Bagi yang ingin merasakan ketegangan pendakian yang dibalut horor, film ini tersedia di bioskop dan platform streaming seperti Netflix. Pastikan untuk menonton bersama teman agar pengalaman horornya semakin seru!

Komentar