Heavenly Ever After mengisahkan Lee Hae-sook, seorang wanita berusia 80 tahun yang meninggal dunia setelah menjalani hidup penuh perjuangan menyokong keluarganya seorang diri pasca-kecelakaan suaminya, Ko Nak-joon. Di surga, Hae-sook membuat keputusan mengejutkan dengan memilih mempertahankan penampilan usia 80 tahun, terinspirasi dari kata-kata cinta suaminya yang menyebutnya paling cantik di usia senja. Sementara itu, Nak-joon muncul dalam wujud usia 30-an, menciptakan dinamika unik antara pasangan ini. Serial ini mengeksplorasi tema cinta abadi, pengorbanan, dan refleksi kehidupan melalui latar surga yang penuh kedamaian.
Cerita ini tidak hanya berfokus pada romansa, tetapi juga menyisipkan elemen komedi ringan dan momen-momen haru yang menggugah emosi.
Salah satu kekuatan utama serial ini adalah konsepnya yang segar. Jarang ada drama Korea yang mengangkat kehidupan setelah kematian dengan pendekatan romantis-komedi yang begitu hangat. Ide tentang pasangan yang bersatu kembali di surga dengan perbedaan usia visual menambah lapisan emosional dan humor yang seimbang. Setiap episode dipenuhi momen-momen kecil yang mengajak penonton merenungkan makna cinta sejati dan hubungan dengan orang-orang tersayang.
Kim Hye-ja, sebagai aktris senior, menghidupkan karakter Lee Hae-sook dengan penuh kepekaan. Ekspresinya mampu menyampaikan kerinduan, keberanian, dan kelembutan seorang istri yang setia. Sementara itu, Son Suk-ku membawa pesona sebagai Nak-joon muda yang penuh kasih sayang. Chemistry mereka, meski dengan perbedaan usia visual, terasa alami dan menyentuh. Pemeran pendukung seperti Han Ji-min, Lee Jung-eun, dan Ryu Deok-hwan juga menambah kedalaman cerita dengan penampilan yang solid.
Secara teknis, serial ini menonjol dengan tata artistik yang menggambarkan surga sebagai tempat yang damai dan estetis. Warna-warna lembut, pencahayaan hangat, dan desain set yang minimalis namun indah menciptakan suasana kontemplatif. Sinematografi yang apik memperkuat emosi setiap adegan, terutama pada momen-momen intim antara Hae-sook dan Nak-joon.
Serial ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang refleksi kehidupan. Tema seperti pengampunan, penerimaan diri, dan pentingnya menjalani hidup dengan kebaikan disampaikan tanpa terasa menggurui. Adegan hewan peliharaan yang bertransformasi sebagai manusia di surga, misalnya, menambah dimensi emosional tentang bagaimana tindakan kita di dunia memengaruhi kehidupan setelahnya.
Meski memiliki premis yang kuat, beberapa episode terasa sedikit lambat, terutama di bagian tengah serial. Fokus pada refleksi dan dialog emosional kadang membuat alur terasa datar, yang mungkin kurang cocok bagi penonton yang menginginkan ritme lebih cepat.
Disutradarai oleh Kim Seok-yoon, yang dikenal melalui karya-karyanya seperti My Liberation Notes, serial ini menunjukkan kepiawaian dalam mengarahkan emosi penonton. Naskah karya Lee Nam-kyu dan Kim Su-jin berhasil menyampaikan cerita yang padat dalam 12 episode tanpa terasa bertele-tele. Musik latar yang lembut dan sesuai dengan suasana juga menjadi nilai tambah, memperkuat nuansa haru dan damai.
Dari segi rating penonton, serial ini mencatatkan angka yang cukup baik, dengan puncak 7.2% untuk episode keempat menurut AGB Nielsen Seoul. Ini menunjukkan sambutan hangat dari penonton, meskipun tidak mencapai puncak popularitas drama-drama besar lainnya di tahun yang sama.
Heavenly Ever After adalah drama yang berhasil menggabungkan elemen fantasi, romansa, dan refleksi kehidupan dengan apik. Serial ini menawarkan pengalaman menonton yang emosional dan bermakna, meski dengan sedikit kekurangan dalam ritme dan pengembangan karakter pendukung. Bagi penggemar drama Korea yang menyukai cerita cinta yang tidak biasa dan penuh makna, serial ini adalah pilihan yang tepat. Dengan rating yang tidak terlalu tinggi dibandingkan drama andalan seperti Resident Playbook atau When Life Gives You Tangerines, saya pikir Heavenly Ever After adalah sebuah hidden gem yang patut mendapat perhatian lebih.
Rate: 8,5/10
Informasi Tambahan
Serial ini telah tersedia di Netflix dengan subtitle bahasa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar