Karate Kid: Legends mengisahkan Li Fong (Ben Wang), seorang remaja berbakat dalam kung fu yang terpaksa pindah dari Beijing ke New York setelah tragedi keluarga, yaitu kematian kakaknya akibat insiden di turnamen bela diri. Di kota baru yang keras, Li berjuang menyesuaikan diri dengan budaya asing dan menghadapi konflik dengan Connor (Aramis Knight), seorang juara karate lokal yang arogan. Dibimbing oleh dua mentor legendaris, Mr. Han (Jackie Chan) dan Daniel LaRusso (Ralph Macchio), Li belajar menggabungkan teknik kung fu dan karate untuk menghadapi Turnamen Five Boroughs, sebuah kompetisi yang menjadi puncak perjuangannya. Film ini tidak hanya tentang pertarungan fisik, tetapi juga perjalanan emosional Li dalam mengatasi trauma dan membuktikan dirinya.
Salah satu daya tarik utama Karate Kid: Legends adalah kehadiran Jackie Chan dan Ralph Macchio, yang membawa nostalgia kuat bagi penggemar lama. Jackie Chan, meski berusia 70 tahun, tetap memukau sebagai Mr. Han dengan kharisma dan aksi khasnya yang lincah. Sementara itu, Ralph Macchio menghidupkan kembali Daniel LaRusso dengan pesona yang matang, meskipun kemunculannya terasa terlambat. Ben Wang sebagai Li Fong berhasil mencuri perhatian dengan akting emosional dan gerakan bela diri yang gesit, menjadikannya protagonis yang mudah disukai.
Koreografi pertarungan dalam film ini juga patut diacungi jempol. Perpaduan kung fu dan karate menghasilkan aksi yang segar dan dinamis, terutama pada adegan latihan di rooftop New York yang kontras dengan nuansa tradisional Tiongkok. Sinematografi film ini menonjol dengan visual kota New York yang tajam, menciptakan atmosfer modern yang kaya. Durasi film yang singkat, sekitar 94 menit, membuat cerita berjalan cepat dan tidak bertele-tele, cocok untuk penonton yang menginginkan hiburan ringan dengan tempo tinggi.
Elemen komedi yang disisipkan di beberapa adegan juga berhasil memberikan napas segar. Interaksi antara Li Fong dan teman-temannya, serta momen ringan antara Mr. Han dan Daniel, menambah kehangatan pada cerita yang penuh ketegangan. Selain itu, film ini berhasil menyampaikan pesan tentang disiplin, kehormatan, dan ketahanan emosional, yang tetap setia pada semangat franchise The Karate Kid.
Meskipun menghibur, Karate Kid: Legends tidak lepas dari kekurangan. Cerita film ini terasa klise, mengikuti formula klasik “from zero to hero” yang sudah usang. Kisah remaja pendiam yang pindah ke tempat baru, menghadapi perundungan, dan bangkit melalui turnamen bela diri terasa seperti pengulangan dari film sebelumnya, terutama The Karate Kid (2010). Kurangnya inovasi dalam plot membuat film ini kehilangan elemen kejutan yang seharusnya bisa meningkatkan intensitasnya.
Karakter antagonis, Connor, adalah salah satu kelemahan besar. Motivasi karakternya yang didasari cemburu dan arogansi terasa dangkal dan kurang dieksplorasi, membuat rivalitas dengan Li Fong kurang menggigit. Selain itu, hubungan antara Li Fong, Mr. Han, dan Daniel LaRusso tidak digali secara mendalam karena durasi film yang pendek. Kehadiran Daniel, misalnya, terasa seperti tambahan belaka karena baru muncul di sepertiga akhir film, sehingga chemistry antara kedua mentor ini tidak sepenuhnya terealisasi.
Dari segi teknis, meskipun koreografi aksi cukup rapi, beberapa adegan pertarungan terasa kurang “greget” dibandingkan film sebelumnya dalam franchise ini. Eksekusi visual pada beberapa momen terasa sederhana, tidak seintens atau secepat yang diharapkan dari film aksi modern. Selain itu, subplot seperti konflik keluarga Li Fong dan hubungannya dengan Mia (Sadie Stanley) terasa terburu-buru dan kurang memberikan dampak emosional yang kuat.
Dari sisi teknis, sinematografi Karate Kid: Legends berhasil menangkap kontras antara budaya Tiongkok dan modernitas New York dengan baik. Adegan-adegan di wuguan Beijing menampilkan nuansa tradisional yang kental, sementara latihan di rooftop New York memberikan kesan urban yang segar. Penggunaan pencahayaan dan sudut kamera dalam adegan aksi cukup efektif untuk menonjolkan gerakan bela diri, meskipun tidak selalu inovatif.
Musik dalam film ini juga cukup mendukung suasana, dengan perpaduan skor dramatis dan sentuhan tradisional Tiongkok yang memperkuat emosi. Namun, soundtrack-nya tidak terlalu memorable, berbeda dengan beberapa lagu ikonik dari film The Karate Kid sebelumnya. Efek suara dalam adegan pertarungan cukup baik, memberikan ketegangan yang pas, meskipun tidak ada momen yang benar-benar mencuri perhatian.
Karate Kid: Legends (2025) adalah film yang menyenangkan untuk penggemar franchise The Karate Kid dan penonton yang mencari hiburan aksi ringan. Kehadiran Jackie Chan dan Ralph Macchio, ditambah performa kuat Ben Wang, menjadi nilai jual utama, sementara koreografi aksi dan visual yang apik menambah daya tarik. Namun, cerita yang klise, karakter antagonis yang lemah, dan kurangnya kedalaman emosional membuat film ini tidak sepenuhnya memenuhi potensinya. Film ini layak ditonton untuk nostalgia dan aksi seru, tetapi jangan harapkan pengalaman yang benar-benar baru atau mendalam.
Rate: 6-6,5/10
Komentar
Posting Komentar