Ulasan Anime Jigokuraku Season 2 (2026): Keindahan Visual yang Dirancang Menuju Pertempuran Akhir

Ada 2 sisi rasa yang saya rasakan saat menonton Jigokuraku Season 2. Di satu sisi, mata dimanjakan oleh koreografi pertarungan yang mengalir deras dan lanskap visual yang memukau. Di sisi lain, ada semacam kegelisahan yang mengambang—seperti menyaksikan sesuatu yang indah namun terasa kurang sempurna, seperti lukisan dengan goresan kuas yang belum tuntas. Musim kedua anime garapan MAPPA ini memang membawa kita lebih dalam ke dalam pusaran Pulau Kotaku yang misterius, namun perjalanannya terasa seperti ekspedisi yang penuh dengan kilauan sekaligus kerapuhan.

Jika musim pertama terasa seperti perkenalan yang lambat terhadap dunia dan karakternya, maka musim kedua ini benar-benar melesat. Fokus bergeser dari eksplorasi survival menjadi pemahaman tentang Tao—sistem kekuatan yang menjadi inti dari konflik melawan Tensen, para makhluk abadi penguasa pulau. Pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul pulau dan para penghuninya mulai terjawab, memberikan kepuasan tersendiri bagi yang penasaran.

Namun, di sinilah masalahnya mulai terasa. Ritme cerita terasa sedikit terburu-buru. Adegan-adegan emosional yang seharusnya meresap sering kali terpotong oleh lompatan ke pertarungan berikutnya. Ada momen-momen menyentuh, seperti kisah para Tensen tertentu yang menyayat hati, tetapi eksplorasinya terasa dangkal—seperti kilasan singkat sebelum kita dilemparkan kembali ke dalam hiruk-pikuk pertempuran. Tidak heran jika beberapa penonton merasa bahwa musim ini lebih berfungsi sebagai “jembatan” menuju musim ketiga daripada sebuah kisah utuh yang berdiri sendiri.

Secara teknis, sulit untuk tidak terpukau. MAPPA benar-benar menunjukkan taringnya di musim ini. Animasi pertarungan adalah sorotan utama—terkoreografi dengan indah, dinamis, dan mengalir tanpa hambatan. Setiap pukulan terasa memiliki bobot dan dampak nyata, membuat setiap benturan terasa hidup di layar. Yang paling mengesankan adalah penggambaran api—bukan sekadar efek generik, tetapi elemen yang terasa “hidup” dengan gerakan dan intensitasnya sendiri, seolah-olah siap melompat keluar dari layar.

Namun, di balik kemegahan visual, terdapat kekurangan yang cukup mengganggu—konsistensi kekuatan atau power scaling. Para Tensen, yang digambarkan sebagai makhluk abadi dengan kekuatan dewa, justru sering kali terlihat kewalahan menghadapi protagonis yang “hanya manusia”. Ada momen-momen di mana karakter seharusnya mati namun bangkit kembali seperti tidak terjadi apa-apa, membuat ketegangan terkadang terasa kehilangan bobotnya. Ini bukanlah kehancuran total, tetapi cukup untuk membuat alis berkerut.

Sisi terbaik dari musim ini adalah pendalaman karakter. Dengan tersingkirnya beberapa karakter pendukung yang kurang relevan, musim kedua memberikan ruang lebih bagi para pemain kunci untuk berkembang. Hubungan antara Gabimaru dan Sagiri terus menjadi jantung emosional cerita—seorang pembunuh yang berusaha membuktikan bahwa dirinya masih manusia, dan seorang algojo yang berjuang untuk diakui di tengah keraguan.

Namun, tidak semua karakter mendapatkan perlakuan yang sama. Beberapa karakter baru, terutama dari klan Asaemon, terasa datar dan mudah ditebak. Mereka lebih terlihat seperti alat plot daripada manusia dengan daging dan darah. Sementara itu, antagonis seperti Ju Fa dan Tao Fa berhasil mencuri perhatian dengan latar belakang mereka yang kontras dan menyedihkan.

Jigokuraku Season 2 adalah definisi dari tontonan yang “hampir sempurna”. Ia memiliki fondasi cerita yang kuat, dunia yang kaya akan filosofi Timur, dan eksekusi visual yang memukau. Namun, ia tersandung pada ritme yang terburu-buru dan ketidakkonsistenan dalam sistem kekuatan yang membuat beberapa momen terasa tidak masuk akal.

Ini adalah musim yang solid namun tidak spektakuler. Ia memberikan apa yang dijanjikan—pertarungan seru, misteri yang terungkap, dan momen-momen emosional—tetapi tidak cukup untuk mencapai level “luar biasa”. Bagi penggemar setia, ini adalah kelanjutan yang memuaskan. Bagi yang baru bergabung, ini mungkin terasa seperti menonton film aksi yang seru namun cepat dilupakan.

Rate: 7 - 7,5 / 10

Komentar